Tuesday, April 29, 2014

KPP - Kursus Persiapan Pernikahan

Kalau disuruh pilih 1 kata untuk menggambarkan KPP: Berguna

Kalau disuruh pilih 3 kata untuk menggambarkan KPP: Berguna tapi ngantuk (hehehe)

Ok, langusng ajah, saya dan MT kemarin ikut KPP di MBK selama 3 hari Jumat dan Sabtu (16.15 - 21.00) dan Minggu (07.15-17.00)-> waktu pelaksanaan bisa berbeda-beda di setiap dekanat.
Buat calon-calon pasutri katolik atau yang akan melangsungkan pernikahan di gereja katolik, pasti tau yang namanya KPP. Dulu waktu daftar KPP, saya even nggak tau apa itu KPP dan apa isinya KPP. hehe. Lalu saya browsing-browsing beberapa blog dan ada beberapa yang cerita ttg KPP, tapi nggak detail. So, saya agak kecewa sama org2 yang cerita nggak detail. Tapi akhirnya saya menyadari kenapa mereka nggak cerita detail. Saya juga nggak akan cerita semuanya, biar kalian rasakan waktu kalian mengalaminya sendiri (haha!)Nggak dink, bercanda. Saya nggak akan cerita detail karena saya mengantuk! di beberapa sesi dan akhirnya, hilang semua cerita itu dari kepala. hehe.

Karena semua org bilang kalau ikut KPP itu ngantuk, maka saya sudah siap kertas dan bolpoin untuk main BINGO dan HANGMAN sama si MT. hehe. (Jangan ditiru yah guys). Tapi pada akhirnya, ternyata yang menjadi ketua penyelenggara KPP kemarin adalah tetangga nya si MT. Yes, tetangga yang kenal deket, bukan asal tetangga. Mateng! nggak bisa lah gw merem2 atau main2. haha.

Hari pertama, saya cukup menyimak tentang arti pernikahan katolik. Dibawakan oleh Romo Nugroho dengan cukup menarik dan ada keketawaannya. So, nggak begitu ngantuk. Intinya adalah: Menikah itu keputusan BESAR! nggak bisa mundur lagi, so kalau mau mundur, mundurlah sekarang! haha. Yang kedua: Menikah secara katolik artiinya membahagiakan pasangan dan memiliki keturunan. Yang ketiga: mulai lost, agak2 lupa apa lagi isinya. hehe.

Hari kedua, ini juga cukup menarik. Pembahasan mengenai ekonomi keluarga, yang pernah saya bahas secuil disini. Selebihnya adalah: setelah menikah, uang harus menjadi tanggung jawab bersama, diatur bersama, jangan dikotak-kotakan menjadi uang suami dan uang istri, cukup menjadi 1 kotak (uang istri-red hahah! *maunya*). Topik berikutnya membahas tentang KB Alami. Nahloh! penting banget ini topiknya, so mana mungkin ngantuk, yang ada malah bercanda2 sama si MT (tetep ajah nggak begitu dengerin. haha.) Intinya adalah: KB yang disarankan oleh gereja katolik adalah KB Alami.

Hari ketiga. Topik pertamanya adalah seksualitas, yang kata orang topik yang menarik dan sangat ditunggu2. Tapi apa yg kami lakukan?! Merem a.k.a ketiduran di kelas karena mengantuk. hehe. Terutama si MT (buang bodi) haha. Pembicaranya kurang bisa membawa suasana menarik, so udah kayak pelajaran Statistik I. Ngantuk! Topik berikutnya, komunikasi suami-istri. Sama ngantuknya! hehe. Apalagi hujan2 gitu di luar. Oyah, hari ketiga ini mulainya jam 7.15 pagi, so nggak mungkin kalau nggak mengantuk. hehe. Topik berikutnya cukup menarik, topik tentang persiapan menjadi orang tua. Intinya, anak itu adalah anugrah dari Tuhan. Dan mereka sudah memiliki perasaan, indra, pikiran, atau apalah kalian menyebutnya, dari sejak mereka hanya berbentuk embrio. So, mulailah pendidikan anak sedini mungkin.

Overall, hal yang bisa dipetikl adalah:
* KPP itu memang ngantuk. I wish mereka (panitia) mencari orang-orang yang memang pembicaram/ dosen/ pakar di bidangnya, so mereka akan membawakan topik KPP dengan lebih menarik dan tidak kaku.
* KPP itu berguna untuk mengenalkan kita kepada perbedaan pria dan wanita, baik secara jasmaniah dan rohaniah, sehingga nantinya kita bisa terapkan dalam hal komunikasi dan membangun keluarga katolik yang bahagia.
* KPP memberi bekal kepada kita bagaimana gereja katolik begitu peduli dengan kehidupan umatnya melalui SKK (Seksi Kerasulan Keluarga).

End of KPP artinya end of "masa santai" ada banyak lagi yang harus dilakukan 4 months menjelang D day!

Wish us luck with our wed-prep guys! and pray for our future family :D


Btw, berikut ini adalah buku catatan saya di hari pertama KPP hehe. Walaupun banyak coretannya, tapi saya mendengarkan kok! :D

Saturday, April 26, 2014

Synergy

Post kali ini, mau sharing mengenai salah satu ilustrasi yang tadi siang saya dapat dalam program KPP (Kursus Persiapan Pernikahan) mengenai Ekonomi Dalam Keluarga. Sebenarnya saya berencana menulis review secara keseluruhan nanti di salah satu post di blog saya. Tapi hari ini, saya dapat ilustrasi menarik, dan saya mau menceritakan di post ini secara agak mendalah (ala-ala dosen-red).

Ok. Pertama saya mau kasih tau inti dr topik KPP nya dl.
Namanya membentuk keluarga itu, kalau disamakan dengan pelajaran bisnis dan akuntansi (untuk saya dan MT lulusan ekonomi hehe), sama seperti membentuk suatu perusahaan. Apa yg perlu diperhatikan: income, expenses, investment, capital, savings, strategy, going concern and communication semuanya harus dilakukan dalam mengatur ekonomi keluarga. Hmmm.. repot yah! Sekali lagi saya bilang, untung saya lulusan akutansi..yah paling nggak saya tau, dimana ada credit, pasti harus ada debit, dimana ada expenses, artinya perlu ada income. Masalahnya adalah, bagaimana bertoleransi antara CEO (suami) dan CFO (istri) (ini istilah ala-ala saya yah hehe) bisa bersinergi, membentuk keluarga dengan perencanaan yang baik. Itu ajah.

Nah pembicaranya tadi membuat ilustrasi begini:
Ada seorang ayah yang mau mewariskan tanahnya yang sangat luas kepada kedua orang anaknya. Caranya sangat mudah. Si ayah memberikan 2 tali ke masing2 anaknya sepanjang 100m. Dan si ayah berkata: Kamu akan saya berikan warisan tanah seluas-luasnya sesuai dengan panjang tali tersebut, dan sisa dari tanah Ayah, akan ayah sumbangkan. Kemudian si sulung langsung membentuk persegi dengan panjang masing2 25cm. Demikian juga si bungsu. Maka masing2 dari mereka akan mendapatkan tanah seluas 625m2 (Luas persegi: 25cm x 25cm).

Kemudian salah satu dari anaknya mempunyai akal. Bagaimana kalau tali yang mereka miliki, mereka ikat menjadi satu dan mereka menandai tanah milik berdua. Maka mereka berdua bekerja sama menyambung tali tersebut dan mendapatkan tanah dengan luas total 2,500m2 (100m + 100m = 200m --> persegi: 50cm x 50cm). Setelah tanah tersebut menjadi milik keduanya, maka mereka membagi dua masing2 tanah dan mendapatkan @1,250m2 (vs. @625m2 kalau mereka tidak bekerja sama)

Dari ilustrasi ini, si pembawa topik menjelaskan bahwa, suami dan istri (baik berpenghasilan berdua ataupun sendiri, baik besar maupun kecil). Harus bekerja sama, bersinergi, untuk mengatur keadaan ekonomi keluarga, dan menghasilkan keluarga yang bahagia, tanpa harus merasa kekurangan dalam hal keuangan.

Kenapa menurut saya cerita ini menarik untuk ditulis? Buat mereka yang dulu belajar di fakultas ekonomi, pasti ingat, kalau di pelajarang Manajemen, kita diajarkan kalau sinergi itu adalah 2+2=5. Dari dulu sampai sekarang, saya tidak bisa melihat reason (baik secara matematis maupun secara teologis *halah*) reason dibalik persamaan itu. Pertanyaan yang selalu timbul adalah: kenapa harus pake angka 2? kenapa harus pakai angka 5? Kenapa harus tambah dan bukan kali? haha Dan akhirnya setelah mendengar ilustrasi di atas, saya lebih menyukai kalau sinergi dijelaskan seperti itu. HAHA (Alasan yang super nggak penting).

Pesan moral: Semoga kalian nggak bosan baca blog saya! (HAHA).
Have a great weekend!

Friday, April 11, 2014

Teori Anak Bungsu

Haii semuaa!! *dadah dadah nggak jelas ke pembaca seluruh Indonesia* (sok laku)

Hari ini saya sempat membaca teori mengenai anak bungsu dengan segala karakteristiknya di salah satu artikel di internet. Karena bacanya di kantor, dan saya randomly ketemu link itu, jadi sekarang tidak bisa saya share disini link-nya, karena saya sudah nggak bisa mencarinya hehe Tapi tadi pas makan siang yah Pak Bos! bukan pas jam kerja kookkk browsing-nyaa sueerr!! :D

Intinya artikel itu bilang kalau karakteristik anak bungsu itu kurang lebih seperti berikut ini:
* kelebihan: persuasif dan berjiwa sosial tinggi.
* kekurangan: tidak bertanggung-jawab, tidak memiliki kemauan yang keras (mudah menyerah) dan emosional.
Ok, satu-satu yah saya bahas, dengan merefleksikannya ke diri saya sendiri yang tidak lain tidak bukan adalah anak bungsu yang lucu, manis, dan imut. hehe.

Persuasif
Dalam artikel itu menyebutkan kalau anak bungsu itu bisa dibilang "memiliki" aset orang tua. Dengan kata lain, apa yang anak ini minta, pasti dikasih. Makanya, anak bungsu sering kali hanya tinggal merengek, dan wala! semuanya tersedia. Jadi dengan kata lain, merengek itu merupakan dasar-dasar ilmu marketing! (sesat banget).
Refleksi:
Dari sejak ingatan saya bekerja 100% alias saya ingat dengan jelas seluruh kejadian di hidup saya (kira-kira jaman SD, mau ngomong gitu ajah susah), yang saya tau, merengek bukan merupakan hal yang mempan untuk kedua orang tua saya. haha. Apalagi kalau merengek untuk barang yang mahal, seperti hand phone misalnya. Papa selalu mengajarkan berjuang sebelum dapat sesuatu yang kami (saya dan kakak saya) inginkan. Misalnya saja, waktu SMA kelas 1 saya mau handphone sampe jungkir balik, tetep ajah nggak dibeliin sampai keliatan nilai metematika di raport dapet 9 (Yes, I AM great at Math!!) haha (sombong tampar ajah! *plok*). Tapi tidak saya pungkiri kalau merengek itu adalah jurus ampuh anak bungsu. Karena hal ini berhasil digunakan untuk hal-hal kecil walaupun papa-mama saya adalah orang yang very strict. haha. Misalnya kalau ada cicak-cicak di dinding diam-diam merayap di kamar saya (note: saya paling geli sama cicak dan kecoa). Saya tinggal ke kamar mama dan merengek, walhasil mama datang kekamar saya membawa sapu lidi dengan segera (masih kejadian sampai sekarang lho! hihihi).
Bottom line, apakah saya menjadi persuasif? tidak. Hanya beberapa orang yang percaya perkataan saya kalau saya menawarkan sesuatu haha. Makanya in the end saya menjadi analyst instead of sales hehe.

Berjiwa sosial tinggi.
Kalo menurut artikel tersebut seorang anak bungsu memiliki jiwa sosial yang tinggi, karena dia biasa mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan kakak-kakaknya.
Refleksi:
Seberapa tinggikah jiwa sosial saya? Menurut saya sih ini nggak ada hubungannya. Kadang kalo punya rejeki lebih jiwa sos saya sangat tinggi, tapi kalau akhir bulan yah nggak lah yauww.. sama-sama kere. hehe. Tapi artikel ini ada benarnya, saya liat dari si MT (note: si MT a.k.a pacar saya ini juga anak bungsu). Dia punya jiwa sosial yang sangat-sangat tinggi, sampai kadang saya keki sendiri dan mau bilang ke dia: nggak usah lha semuanya disumbang. hehe. (maafkan pacar mu yang tidak berjiwa sosial ini , MT).

Tidak bertanggung jawab
Menurut artikel, anak bungsu ini memiliki tingkat tanggung jawab yang rendah karena terbiasa "disuapi" dan "gampang diberi" oleh kakak dan orang tuanya.
Refleksi:
Siape bilang gw nggak tanggung jawab?? hah?!! Mungkin di beberapa hal ada benarnya, seperti: tanggung jawab atas kondisi kamar tidur *oops* Kalau dibandingkan dengan kakak saya yg obssesive compulsive, kamar saya sih (dulu waktu jaman SMP-SMA) jauh lebih berantakan dari kamar dia. Tapi kalau dalam hal-hal besar saya tetap dididik oelh orang tua saya dengan benar, yaitu untuk bertanggung jawab atas sikap dan perbuatan saya sendiri. Jadi, menurut saya tanggung jawab dan tidak, sangat jauh kalau dihubung2kan dengan urutan kelahiran seorang manusia. hehe.

Mudah menyerah
Sama seperti alasan tanggung jawab, karena saking seringnya anak bungsu "disuapi", maka ia akan lebih mudah menyerah dan tidak terbiasa berjuang.
Refleksi:
Bukti perjuangan saya, bisa dilihat di tulisan saya selama 2012 yaitu selama saya berjuang sendirian di sydney. Artikel tersebut sangat lemah menarik garis antara urutan kelahiran dengan kemudahan seseorang untuk menyerah. Banyak faktor lain selain generalisasi sikap orang tua terhadap anak terakhirnya yang dapat mempengaruhi kegigihan seseorang. Misalnya, anak bungsu sih anak bungsu, tapi klo lahirnya di keluarga miskin, kan sama-sama harus berjuang hidup. Mau bungsu, mau sulung, semua harus cari uang. yah toh! hehe

Emosional
Menurut artikel tersebut, pemberian perhatian yang lebih dari orang tua dan kakak juga berujung pada sikap emosional anak bungsu yang turun naik.
Refleksi:
Satu-satunya sifat yang saya benarkan! hehe. Saya memang orang yang sangat emosional. bisa gampang naik darah, tapi gampang juga reda dan menyesal. haha. Haruskah saya ikut anger management? Kata mama sih harus. hehe. Oh No!

Well, in the end, sesuai tulisan saya sebelumnya disini bahwa manusia itu tidak bisa dikelompokkan. Begitu juga dengan pengelompokkan sifat dan sikap manusia sesuai dengan urutan kelahirannya. hehe.

So, apakah kalian setuju kalau anak bungsu itu manja dan menyebalkan? (ayo anak bungsu pada bersuara).
Saya sih nggak setuju. Lingkungan dan pendidikan sangat berpengaruh pada sifat seseorang, bukan urutan kelahirannya.

Random banget yah tulisan saya kali ini. Out of nowhere tiba-tiba nulis beginian.

Ciao!

Saturday, March 22, 2014

Update Wedding Preparation

Update dikit dhe..biar blog ini bisa berguna buat temen2 yang mau melakukan persiapan wedding hehe..

As u may know (halah!! bahasa gw, kayak banyak ajah yang baca blog ini hwhwhw), gw udah memulai persiapan wedding dari sekitar 6 bulan yang lalu. Well, berikut ini saya sharing beberapa yang mungkin berguna buat kamyu, kamyu and kamyu syemuah yang juga mau wed-prep! (ok, enough with the alay-language!! or else semua org jadi malass bacanya haha).

First stop: Vanue
Venue sudah dibooking +/- 1 tahun sebelum wed. Kenapa? karena saya orangnya nggak mau grabak grubuk nyari2 venue, jadi saya decide 1 tahun sebelumnya adalah waktu yang tepat untuk mencari venue. Venue harus sesuai sama kriteria2 tertentu i.e. jumlah undangan, preferensi outdoor/indoor, preferensi jumlah ballroom yang ada, lokasi parkir dan kapasitasnya, list rekanan-rekanan, dan yang paling penting adalah..(u know).. HARGA! hehe. Sebagai capeng dengan modest capital, berikut ini venue yang menjadi sorotan kami tempo hari:

Gd. UKM SME (Smesco)
keterangan paket dan harga bisa dilihat disini.
Plus value:
* hanya menyediakan 1 ballroom, which mengurangi kemungkinan tamu "salah masuk" hehe
* parkir basemen, mengurangi kemungkinan hujan dan tamu kehujanan.
* kapasitan 2,000 orang (lebay bgt sih ini)
* punya list rekanan yang cukup ok, terutama cetering.
* jangakauan yang ok, karena nggak terkena macet semanggi (exit tol Pancoran, bukan semanggi hehe)

Minus value:
* hanya ada harga paket, yang tidak semua item dalam paket terebut bisa langsung dipakai (harus upgrade). In the end, jadi cukup mahal karena harus di upgrade2.
* Cukup jauh dari lokasi gereja dan lingkungan rumah kami.

JIExpo Kemayoran.
Keterangan paket dan harga bisa dilihat disini.
Plus:
* menyediakan berbagai paket dengan berbagai kapasitas dan berbagai luas ballroom
* jauh dari macet tentunya. Relative lebih tidak macet dibandingkan daerah sudirman, gatot subroto dan thamrin.
* punya list rekanan yang cukup ok.

Minus:
* karena punya beberapa ballroom, ada kemungkinan tamu bisa "salah masuk"
* Parkir sangat luas, tapi tidak di basemen. Kalau hujan akan merepotkan tamu.
* Harga juga sudah di paket, dan jika ingin tambah ini dan itu, harus upgrade.

Citiwalk ballroom:
Keterangan paket dan harga bisa dilihat disini.
Btw, ternyata mereka ini juga merupakan management gedung bapindo.
Plus:
* Walaupun ada di seputaran Sudirman, Citiwalk punya banyak access, dr sudirman, karet dan kampung melayu (JLNT) hehe.
* Paket nya sudah cukup lengkap
* ballroom cukup luas.
* rekanannya keren2! dari catering, dekor, dll

Minus:
* harganya sedikit lebih mahal.
* ada pintu "exit" yang cukup mengganggu di tengah2 ruangan, sehingga membuat ruangan seperti berbentuk "u" yang kakinya tidak simetris.
* karena lokasi nya ada di dalam mall, jadi tempat parkir pun gabung dengan mall, tapi cukup luas juga sih parkirannya.

Kira-kira 3 venue itu yang paling menjadi sorotan kami. Ada juga beberapa venue yang cukup ok, tapi akhirnya kami eliminasi dengan berbagai alasan, misalnya:
* Bapindo, karena lift menuju lokasi ballroom terbatas dan tamu sering sekali mengeluh
* Senayan City wedding hall, karena di dalam mall yang cukup hip.
* Sentral restaurant Tomang, karena masalah parkir.
* Hotel Bidakara, overbudget!! hehe
* Central Park, karena hanya punya 1 rekanan catering.
* Season City, lokasinya nggak memungkinkan
* The Palm Ballroom, lagi2 masalah lokasi.

Dan ada beberapa gedung yang menurut kami ideal, tapi udah keduluan sama orang (dem!):
* Patra Jasa, Gotot Subroto
* Granadi, Kuningan

Banyak juga tempat2 potensial yang belum sempat dikunjungi:
* The upper room
* Thamrin Nine (UOB)
* Lemhanas
* Departemen Keuangan (deket lapangan banteng), etc.

Next: Gereja.
Gereja ini sebenernya adalah intinya! Dimana lo resmi menikah di hadapan Tuhan? yah digereja, bukan di venue. hehe. Intinya Gereja dan Venue sama2 penting dan harus di book +/- 1 tahun sebelumnya.

Tadinya saya mau menikah di gereja2 kuno seperti Theresia dan Katedral. Tapi ditolak mentah2 sama berbagai pihak karena alasan administratif yang rempong. hehe. Akhirnya decide, antara gereja saya atau gereja MT. Setelah perdebatan panjang, akhirnya bukan gereja saya ataupun gereja MT yang dipilih. hehe. Kami memilih gereja tempat kami bersekolah dulu :D
Dengan alasan:
* lokasinya lebih "ditengah kota"
* dikelilingi dengan berbagai hotel yang bisa dipakai untuk shooting2an
* kapelnya baguuuuusss! kecil, sakral, dan pass sama jumlah undangan gereja :D

Next: Istirohat dulu sambil baca2 referensi, cari2 testimonial teman atau blogger ttg vendor2 lain, dan sharing2 sama teman2 senasib lain (aka. temen yang juga mau merit hehe, trust me, nyiapin bareng temen lebih "meringankan beban pikiran" dibanding diskusi panjang sama cami *oops sorry MT! hehehe*).
Setelah Venue dan gereja dibooking, kami bisa bernapas agak lega. Urusan yang lain-lain seperti catering, dekor, undangan, entertainment, dan tetek bengek lain bisa sambil jalan dan lebih santai. hihi.

Sekian sharing saya! Semoga ada informasi yang berguna. Kalo nggak ada, yah jangan bete, namanya juga komunikasi 1 arah. Intinya suka-suka saya mau sharing apa, blog kan blog saya. Lho kok jadi saya yang bete. hahah (apasih ini?)

Ciao!!

Friday, March 21, 2014

Jogjakarta yang Indah

Minggu lalu, tepatnya seminggu setelah hilangnya pesawat MH370, saya dan teman2 berangkat ke Jogja. Lumayan parno sih, karena baru ada pesawat hilang. Dan lagi, sebelum ke Jogja tuh ada aja halangannya. Mulai dari demam, sampai nyeri sendi hihihi.. 

Tapi untungnya in the end semuanya bisa ke Jogjes!! 

Inti cerita perjalanan ini, dimulai dari...(entah dr tahun kapan).. Dl sy dan keempat besties punya cita2 mau ke eropa trip bareng haha! Tapi belum kesampean! Yah secara boo mahal banget!! Saya kan hanya modest banker yg mencari nafkah dr ngitungin credit orang haha! Akhirnya 2010, kita ke Bandung ajahh murah meriah ajahh hoho.. Dan dari sejak ke Bandung udh nggak pernah lg pergi2, sampai akhirnya ada yg menceruskan klo kita harus pergi sebelum salah satu dr kita merit (they pointed at me sih huhu) maka pergilah kita minggu lalu!! 

Ok, ulasannya akan dibuka dengan 1 kalimat: Jogja itu indah dan muraaahh!! 

Saya pernah ke joga kalo bisa diitung itu ada 4x sama yg kmrn.. Pertama waktu masih SMP pernah road trip sama keluarga keliling jawa-bali dan sempet mampir jogja.. Sekali lagi juga masih SMP pergi sama org2 Lingkungan.. Ketiga kali pergi sama anak2 SMA karyawisata ke sini.. Dan yg terakhir kemarin itu.. 

Yang pertama s/d ketiga tidak pernah mengeluarkan uang sendiri ke joga.. Jelas saya tidak sadar kalau jogja itu sangat murah! Hehe bayangkan saja kami makan berlima + 1 driver hanya 100 ribu.. Sudah enak, dan kenyang.. Di Jakarta makan 100 ribu dapetnya hanya bakso jawir pesanggrahan makan berdua doank.. Oh jakarta super mahal!!

Kedua, jogja yg indah, apalagi waktu kita liat sunrise di borobudur!! Memang mahal bgt sih masuknya 250rb/org! Tapi totally worthy! Kebetulan memang agak mendung, tapi begitu mataharinya agak naik, bener2 kelihatan bulat, besar dan berwarna orange! If you wanna go to Joga, u should see this!! Sayangnya gak bs ditangkep camera.. 

Kemudian kita juga ke gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran.. Disini sih yah namanya tempat ziarah, sepi, sunyii, khusuk.. Yang bisa dilihat disini adalah kelihatan bgt adanya akulturasi budaya dan agama di Jogja. Untuk yg belum pernah pergi, jadi tempat ini ada sebuah candi, mirip2 candi mendut. Candinya cuman 1 dan kecil.. Didalamnya ada patung, yang kami percayai adalah Tuhan Yesus dalam bentuk Jawa kuno. Kenapa Jawa Kuno? Karena lebih mirip dengan patung budha yang kurus (maaf yah, saya nggak tau istilah luran budha nya, yang saya tau hanya patungnya, jadi saya menyebutnya demikian)..

Kami juga pergi ke museum ulen sentalu! Ini museum sih ok banget menurut saya, selain mengenalkan kita dengan budaya jawa, kita juga bs tau sedikit mengenai sejarah keraton jogja dan solo. Kenapa bisa terpecah 2.. Kenapa saya bilang "sedikit" karena sekali group wisatawan masuk, kita akan di guide oleh 1 orang yang hanya diberi waktu 50 menit untuk keliling2 dan dijelaskan setiap ornamen. Bayangkan 50 menit diceritain sejarah sepanjang ratusan tahun!! Jd yahh nggak mungkin inget lha yaaw.. 

For wrap up: jogja is beautiful!! Nggak kalah sama sekali sama Bali! 
Terima kasih sahabat2 saya dr SMP yang sudah berbagi gembel2an di Jogja!! I surely miss having another trip with u guys!! (Next: Semarang..?) hihihi

Cioa!!

Kloter pertama yang sampai jogja! Hihi



Nasi Gudeg Yu Djum yg super terkenal dan enak!! Tapi ini agak mahal sih

Sangat senang habis berbelanja batik (gw sih senang, tapi uangnya jebol cyiin)

Alun-alun in Friday night!! (So creative!)

Sunrise @ Borobudur! So beautiful, tapi sayang gak ketangkep camera

Ulen Sentalu Museum
Ganjuran
Cafe terakhir yg kami kunjungi :( Kalimilk
(Kealayan kami menunjukkan usia kami hihi)

Oyah, kalau ada yg tanya habis berapa ke jogja, kurang lebih kami habis IDR2mn/person sudah termasuk supir, pesawat garuda, hotel, mobil, masuk ke borobudur pagi2 buta dan makan like a lot! Haha Yang belum hanya belanja oleh2 dan batik (btw, cara menulis nominal uangnya menunjukkan pekerjaannya apa) haha





Tuesday, March 11, 2014

Mengelompokkan Manusia

Postingan kali ini dibuat sambil menunggu telepon dari si MT. haha.

Tiba-tiba pas lagi liat-liat Path, kepikiran topik yang udah ada di kepala, tapi sulit sekali diungkapkan dari beberapa minggu yang lalu (lebay banget).

Akhir-akhir ini saya sering sekali menemukan ide-ide topik tulisan aneh di kepala, mungkin karena saya sering terjebak di kemacetan Jakarta. Dan kalau sudah terjebak, jadinya ngelamun (untung saya jarang ngelewatin kuburan kalo lagi nyetir hihi bisa-bisa nanti kesambet! *amit2!!*)

Ok, back to the topic! Mengelompokkan Manusia. Apasih itu? (Mungkin kalau ada salah satu pembaca yang mempunyai background psikologi, bisa tolong bantu saya dengan tulisan ini. Eniwei, dulu saya mau lho jadi psikolog, tapi karena "himbauan" papa akhirnya saya jadi akuntan (sudahlah, ini akan saya ceritakan di posting-posting mendatang saja hehe kalau nggak nanti jadi OOT hoho).

Dulu, waktu masih sering ikut mudika (sekarang namanya OMK), saya pernah diajarkan mengenai 4 pengelompokkan sifat orang: sanguinis, plegmatis, (apalagi yah 2 nya lupa dhee.. nggak mungkin "romantis" kan?? hahaha!). Lalu ada lagi baru2 ini muncul introvert vs extrovert. Lalu ada lagi teori tentang sifat anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu. Dan lain lain.

Saya adalah tipe orang yang tidak begitu mengenal diri sendiri dalam kelompok2 manusia yang sudah ada. Misalnya, orang bilang saya extrovert, karena saya bawel. Tapi saya merasa akan bawel ke orang-orang tertentu saja, dan nggak pernah nyaman berada di lingkungan baru. Jadi saya bilang saya interovert. Tapi di lain sisi, saya senang sekali berbagi dengan orang lain, dari tulisan, dan sharing. Jadi kalau gitu, saya extrovert atau introvert??

Lalu saya pernah baca teori anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu. Saya anak bungsu, dengan hanya punya 1 kakak yang bisa dibilang cuek sama dd nya yang manis ini (cuek yah, bukan nggak sayang). Nah, kalo dalam teori si sulung dan si bungsu, nggak masuk juga tuh sama saya. Di teori itu disebutkan, kalo si bungsu harusnya menjadi seorang penyayang, petualang,.. (apalagi yah saya agak lupa, pokoknya yang sifat lucu2 cantik dan manis gitu lha). Nah hal ini nggak sesuai juga sama saya (kita ngomongin sifat yah, bukan appearance, kalo ngomongin appearance, saya lucu2 cantik dan manis kok! hehehe). Saya lebih seperti anak tengah, yang katanya berantakan (yes, my room doesn't look like a girl room hehe *oops!) Yang katanya mandiri (mungkin karena saya kuliah selalu jauh dari rumah dan saya punya kakak yang cuek, jadi saya seperti terbiasa untuk mandiri). Tapi saya juga cengengesan gini punya jiwa leadership lho (a.k.a mau sok ngatur wkwkw!) artinya saya juga punya jiwa anak sulung. Nah lho, sekarang saya nggak ada bungsu-bungsu nya sama sekali!!

Yah inti dari tulisan ini adalah, saya berkesimpulan kalau sifat manusia itu tidak bisa dikelompok2an. Manusia itu unik! 1 orang cuman ada 1.

Morale of the story, jangan pernah menghakimi orang, karena kita semua berbeda. :)

Selamat malam!

Friday, February 28, 2014

I choose to be happy

Hari ini saya mau menulis sesuatu yang agak-agak serius. Ser-San serius tapi santai (haduh, jadul banget bahasa gw!!)

Hari ini banyak sekali hal-hal yang terjadi yang mungkin bisa merusak mood saya. Kalau mood nya sudah rusak, it definetely will ruin my weekend! (NO!!)

There was a time when a small thing could easily ruin my mood. Tapi sekarang saya sudah tau, if you want to be happy, then u should choose to be happy.

Baru sekarang sadar sih soal hal-hal beginian, mungkin masalah ada pada faktor "U" a.k.a umur yang sudah harusnya dewasa. haha.

Hari ini, saya memulai Jumat dengan malas. Memang minggu ini to-do-list saya sudah beres, dan saya tidak punya hal yang urgent yang harus diselesaikan. So, what else could I do instead of: ENJOYING MY DAY. HAHA!

Tapi lagi heaven-heaven-nya (oposeh bahasanyaa) tau-tau jam 4 bermunculan email kerjaan. Sebenarnya itu bukan tanggung jawab saya, tapi 2 orang colleagues saya cuti minggu depan, dan saya harus back up mereka. Awalnya memang sempet mengeluh, kenapa mereka nggak berbagi kerjaan dari pagi tadi? kenapa harus 1 jam sebelum tenggo? kenapa..? kenapa?? (banyak kenapanya dhe).

Lagi, hari ini saya harusnya dijemput sama Papa. Tapi mendadak papa kasih kabar kalau beliau ada halangan, jadi saya harus naik taxi pulang. This is Friday. Can u imagine how hard to find taxi on Friday in Sudirman?? Tadinya saya decide mau naik ojek. Tapi mengingat tidak membawa perlengkapan (masker, jaket berkupluk buat tutup kepala). Akhirnya karena sakit perut dan takut hujan saya harus merogoh kocek lebih dalam. :(

Lagi, jalanan sangat maceeeet kalau naik taxi di jam 6. Yang seharusnya bisa saya tempuh 1 jam lebih sedikit, saya harus tempuh 1 jam 30 menit. Dan yang paling heboh adalah: menahan perut melilit!! haha.

Lagi, rencana pulang cepat sudah gagal total karena kerjaan mendadak dan cari taxi yang susah. Akhirnya rencana mau joget hiphop abs pun saya mundurkan. Tapi sampai rumah, terpaksa harus jagain ponakanku nan-bandel (tapi lucuk!!). Pulang langsung menyalurkan kemelilitan perut saya ke WC haha! Makan mandi, dan langsung menjaga ponakanku yang nggak mau minum susu, nggak mau tidur, maunya hanya main dan nonton. Ditambah pengasuhnya yang ngedumel terus. Akhirnya joget perut itu saya urungkan (Besok ajah pagi2 fitnes hehe).

Seluruh kejadian di atas sudah sangat cukup membuat mood weekend berantakan. Tapi I CHOOSE TO BE HAPPY. hehe.

Soal kerjaan, banyak teman sekantor lain yang mendukung dan memberi support, so, nggak akan berat dikerjain sama suasana hati yang enak nanti di hari senin. (Don't worry boss! I'm happy! hehe). Kedua, soal merogoh kocek buat taxi dan buang waktu di traffic. Well, ini nggak ada solusinya sih, so buat apa dipikirin lebih lama, toh uang sudah keluar, waktu sudah terbuang, supir taxi sudah senang karena dapat order. So, I choose to be happy.

Joget perut yang terbengkalai. Salah saya sendiri hari ini minum soya shake yang pakai ice cream vanilla. Makanya hari ini jadi merasa bersalah banget kalau nggak joget perut. Tapi eniwei besok kan mau fitnes, so kalo hari ini jelek2 mood nya, besok pasti jadi males fitness. hehe. Dan, menjaga ponakan itu seruu, sebel, lucu jadi satu. Sampai akhirnya ponakan saya nggak mau lepas sampe tidur sama saya, itu namanya achievement! hehe. So, I choose to be happy!

Morales of the story are:
* saya sudah tua.
* Happy is not a given situation, it is an effort to forget and forgive.

Ciao!