Saturday, March 31, 2018

Freezing Japan 2018 - Day 3: Gala Yuzawa

Sampai di hari ketiga!

Masih dalam rangka memanfaatkan TWP dengan maksimal, akhirnya kami putuskan ke Gala Yuzawa Ski Resort. Alasannya: free pakai TWP! Biaya PP tanpa TWP ke Gala itu sekitar 12,000-13,000.. Jadi kalau beli TWP ajah, dipakai ke Gala Yuzawa doank, udah langsung balik modal.

Hasil tinjauan kami (saya doank sihh! MT cuma meninjau biaya2 skiing) melalui Hyperdia dan Google Map, Gala Yuzawa paling mudah dijangkau dari statiun Ueno. Tiket Shinkansen Ueno - Gala Yuzawa sudah kami pesan 2 hari lalu berbarengan dengan pesan Shinkansen ke Kawaguchiko.

Pagi-pagi, lagi2 kami sudah rapih jali melenggang ke Ikejiri Ohasi, tidak lupa kami sempatkan makan roti tawar (yang enak banget beli kemarin ke Combini) dan makan onigiri di Combini dekat AirBnB. Sampai Ueno, ternyata, again, kepagian. Karena statiun bawah tanahnya agak2 outdoor (maksudnya angin2 dingin masuk juga melalui terowongan kereta ke ruang tunggu). Jadi mereka menyediakan ruang tunggu khusus masuk ke dalam ruangan tertutup. Si MT sempat-sempatnya bobo disana karena hangat, sambil menunggu Shinkansen. Ternyata, memang Ueno ini base nya orang2 menuju Ski resort di Yuzawa Area. Karena banyak sekali orang-orang lokal membawa peralatan ski dan snow board di Ueno Station. Tapi kebanyakan orang local turunnya di Echigo Yuzawa (1 station sebelum Gala) mungkin karena di Gala sudah terlalu banyak turis.

Kalau mau liat2 waktu pembukaan Gala Yuzawa, sewa alat, dan lesson. Silahkan liat2 di sini yahh..
Informasi di dalam web nya cukup lengkap. Untuk Ski lesson berbahasa Inggirs bisa langsung ngobrol2 sama orangnya via webchat.

Sampai di Gala (kebetulan kereta kita kereta pertama yg sampai di Gala) sudah ada "pemandu" yang menunggu kedatangan kita. Pemandu nya banyak dan dari beberapa negara yang sering mengunjungi Jepang. Ada yang berbahasa Inggris (entah dr mana yang pasti penampakannya bule), ada orang malaysia (spotted karena dia berkerudung), dan ada orang china. Anyway, tanpa ditanya, si orang Melayu itu langsung nyamperin kita (mungkin karena dia mendengar kita saling berbicara dalam bahasa indo). Dan dia langsung memberi petunjuk2 untuk pembelian tiket, sewa alat, dan paket2.

Jadi antrian pembelian tiket ada beberapa counter, dan ada 3 macam. Satu yang berbahasa Japanese and Korean, satu yang berbahasa Japanese and Chinese, satu lagi berbahasa Japanese and English. So, jangan salah antri. Dan so pasti yang antriannya paling panjang adalah English.

Karena pas kesana di pas-pas-in sama ulang tahun saya! yey! sebenarnya mereka menjual free lifting tiket untuk skiing dan Gondola free naik turun berapa kalipun (NB: kalo beli tiket gondola, itu hanya untuk 1 kali PP ajah). Botomline, karena saya berulang tahun kami menghemat sampai hampir 4,000 Yen. Lumayan kan! Jadi kalo ulang tahunnya di musim2 dingin, coba deh kesini, banyak promo! hehe. Oh ada satu lagi promo yang kita dapat, promo 10% discount karena menggunakan TWP! yey!.

Selesai bebelian tiket dan sewa loker, kita langsung ke tempat sewa alat. Di sana disediakan beberapa Rak khusus mencoba nomor sepatu. Setelah dicoba nomornya, langsung dicatat di form nya dan antri lagi di tmpt sewa menyewa.
(begini bentuk isian form nya)

Oiyah kita nggak jadi main Ski btw, karena lesson nya full book dan kalo kata MT terlalu beresiko kalo main Ski tanpa lesson untuk pertama kali XP. Jadinya harus berpuas hati hanya dengan bermain Sled (seluncuran ky anak kecil).

Habis dapet sewa boot , kita langsung mengarah ke loker. taruh2 semua barang, hanya bawa HP dan tiket ajah, karena sudah dapat dipastikan kami akan terlalu malas mengeluarkan kamera karena tangannya terlalu dingin dan basah.

Naik Gondola sampai tempat permainan, disana baru akan dapat papan seluncuran Sled.

(sesampainya tempat main, hujan salju tipis dan berkabut)

Setelah puas main sled (capek juga loh FYI). Baru kita lanjut makan siang, dan kebetulan kita juga beli paket Fun Tour pake sepatu (apa gitu lupa namanya) tradisional Jepang. Jadi orang Jepang Jaman dulu kalau jalan2 di salju pakai sepatu ini. Anyway, kalau kita nggak pakai sepatu ini, jalannya akan kejeblos masuk ke salju sampa sebetis.



(baguuuuuuusss banget Gala, sumpah nggak akan menyesal kesini)

Dan ternyata hasil terik2 panas banget, jadinya super panas banget disana. Pualng2 dari Jepang, muka saya sedikit terbakar, karena main disini. sigh. Tapi puas!Selesai Fun Tour, yang kita lakukan mahal, makan es krim karena kepanasan :)

Pulang dari Gala, sambil menyeret2 kaki, karena nggak puas dan nggak jd ski (sedih), kembalilah kita ke Ueno. Sampai Ueno, karena sudah mendekati jam makan, si MT langsung google2 mencari restoran enak di Ueno. Ternyada ada tempat makan sushi yang namanya pakai bahasa kanji dan tak terbaca di dalam Ueno Night Market. Akhirnya setelah mencocokan tulisan kanji di papan toko dan di gambar orang melalui trip advisor, sampailah kita ke tmpt makan sushi. Sushi nya ternyata murah2.. mulai dari 100 Yen sampai 500 Yen per plate. Dan sisinya Banyak. BANYAK! Isinya yah, topingnya, bukan nasinya. So, totally worth it. Tapi maap tidak membantu karena lupa nama restonya :)
(kira2 begini bentuk sushinya)

Karena kita sampai sebelum jam makan, kita masih bisa dapat tempat duduk. Selesai makan, ternyata didepan sudah muncul antrian. Baiklah! Hokii!

Selesai makan di Ueno, kita hanya berjalan-jalan sebentar (masuk Uniqlo berniat membeli Jaket lagi karena salah bawa jaket, tapi kok rasanya sayang akhinya tidak jadi haha!).

Pulang lah kita ke AirBnB dan mengakhiri hari ketiga yang indah ini! :)

Saturday, March 24, 2018

Freezing Japan 2018 - Day 2: Tokyo - Kawaguchiko - Gotemba - Kawaguchiko - Tokyo

Di hari kedua, acara kami cukup padat, karena lama di perjalanan, karena lagi, saya mengatur perjalanan dengan biaya se-minim mungkin.

Ok, jadi begini.. Sebenarnya, kita bisa atur perjalanan dengan rute: 
Opsi 1) Tokyo - Kawaguchiko - Gotemba - Tokyo
Opsi 2) Tokyo - Kawaguchiko - Gotemba - Kawaguchiko - Tokyo (lebih muter2)

Yang pasti, perjalanan dari Kawaguchiko - Gotemba nggak di cover sama TWP. Jadi kita harus beli tiket bus seharga 1,510 Yen. Di opsi 1, perjalanan pulang dr Gotemba - Tokyo juga tidak di cover sama TWP, kurang lebih ada additional cost sebesar 3,000 Yen. Sedangkan, kalau menggunakan opsi 2, perjalanan balik dr Gotemba ke Kawagushiko hanya makan biaya bus 1,510 Yen lagi. dan dari Kawaguchiko ke Tokyo sudah pasti di cover oleh TWP. So, di Opsi 1, akan keluar additional cost 4,500 Yen tapi hemat waktu sekitar 30 menit. dan di Opsi 2 akan keluar additional cost 3,020 tapi lebih lama 30 menit. Akhirnya saya putuskan Opsi 2. 

Jadwal bus untuk PP Kawaguchiko - Gotemba bisa dilihat di link ini. 
Beli tiketnya bisa di statiun Kawaguchiko, atau bisa langsung menggunakan Suica/Pasmo Card di tap di dalam bus.

Perjalanan dimulai pagi2 buta. Jam 6 kami sudah rapih jali melenggang Ikejiri Ohasi St. (pemirsa : Kalian mandi nggak sih? Jam 6 pagi udah rapih?; kami: nggak donk! kan malamnya udah mandi dengan bersih.. jd pagi2 tinggal jalan.. anyway itu musim dingin, bisa mati beku haha!). 

Base kami dimulai dari Shinjuku St. Oiyah, lupa bilang kalau di hari sebelumnya, kami sudah melakukan reserve bus di statiun Shibuya. Tinggal dateng ke Loketnya (untungnya English Speaking..) dan kasih tau kalian mau book tiket menggunakan apa jam berapa, kemana.. semua bisa diliat di hyperdia dan google map yahh.. Rutenya kalo weekdays adalah Shinjuku - Otsuki - Kawaguchiko. Kalau weekend, katanya sih ada yang langsung dr Shinjuku - Kawaguchiko. 

Okei, pagi2 kita sudah sampe Shinjuku. Saya sengaja nggak mengatur waktu mepet2, karena nggak tau kondisi Shinjuku yang kata orang besar sekali.. takutnya kereta yg udah terbooking malah kelewatan.. Akhirnya sampe di Shinjuku menyempatkan diri membeli Onigiri di Combini.. murah! cuman Y120 sajahh per pcs. 

Shinjuku - Otsuki makan waktu sekitar 1 jam. Dalam kereta enak banget lah, anget2 dan canggih. Kemudian lanjut dr Otsuki langsung ke Kawaguchiko menggunakan kereta yang lebih kuno, dan dingin banget! zzzzz...

(di dalam tran Otsuki - Kawaguchiko, tetap harus berpakaian lengkap bak tukang villa puncak, karena dinginnya pake banget!)

Otsuki - Kawaguchiko St, akan melewati Fuji St dan Fuji highland. Sang masinis akan memelankan keretanya saat Fujisan View nya pas banget buat di foto. Saya ingat saya ikut foto, tapi saya lupa fotonya ada dimana :( Otsuki - Kawaguchiko kurang lebih hanya 40an menit. Sampai di Kawagichiko St sudah ramai turis.. langsung buru2 lari ke perapian tengah yang hangat banget, sebelum jalan kaki lagi ke Kawaguchiko Lake. Kebetulan, kami tidak mengunjuki Tourist Spot. Bukan karena sengaja, tapi karena ketidak tahuan kami dan ke cheapo-an kami. Karena nggak mau tambah additional cost naik bus lagi dari Kawaguchiko St ke lake, so kami pilih jalan kaki bermodalkan google map. Sepanajng Jalan bagus loh View nya! nggak menyesal sihh.. Dan bener2 masuk2 ke gang-gang perumahan Jepang.. bahkan ada sampe lihat ada kuburan. 

Sesampainya kita, lalu bingung, kok sepi banget, kok nggak ada yang jual makanan.. kok kok kok.. Tapi akhirnya tetap foto2 karena bagus banget! dan kebetulan sepi yah.. krn bukan tourist spot. 
(bagus gak bagus gak? Fujisan nya mana? Fujisannya ada di belakang kita hehe)

Puas jalan-jalan dan foto, kita mampir ke tempat ramen (yang kata si MT) terkenal dan enak. Namanya Fujinokura Ramen. Btw, lumayan setelah jalan kaki naik turun bukit, badan ini menjadi hangat kembali haha. Makan ramen jadi puas bgt karena kelaparan hanya makan Onigiri di pagi hari. 

(enak nggak? Nyahh.. oklah.. karena nampaknya makanan di daerah ini tidak sebanyak di Tokyo)

Masuk restoran jam 11 (pas baru buka) masih sepi.. selama makan akhirnya makin banyak turis-turis berdatangan. Cabut dari makan bakmi (eh ramen) kita langsung ke Kawagichiko St. lagi untuk menunggu bus di Shelter 6 (outdoor, dingin, mampus) untuk ke Gotemba. Naik bus makan waktu 1.5 jam.. lama yah ternyata. bisa bobo2 ciang dulu di bus. 

Gotemba buat saya. Yah cukup tau ajah sih.. barang2nya bukan yang bagus2 gimana. Untuk yang hunting barang ber-merk yah harusnya ok lah. Saya sih terus terang bengkrap, jadi nggak beli apa2. si MT dapet sepatu Adidas lumayan murah. Yang saya suka adalah bisa makan Es Krim Godiva yey! Ternyata makan es krim di musim dingin bukan hal besar haha. 

Nggak banyak cerita di Gotemba, akhirnya kita memutuskan untuk pulang 1 jam lebih awal dr jadwal. Lanjut lagi ke Kawaguchiko St - Otsuki - dan Shinjuku. Sampai Shinjuku udah lagi-lagi lewat jam makan malam. Sudah kurang lebih jam 9 kurang dan kami mau coba ramen yang super terkenal (ternyata ramen turis) - Ichiran Ramen. Waiting time kurang lebih...hmmm... 40 menit kali yah.. outdoor, dingin, bye! Dan yang antri benar2 turis semua, Filipino, Korean, Chinese, Indonesia (us!). Sambil antri, kebetulan ada Lawson. Langsung saya cabut ke Lawson untuk beli Tiket Fujiko Museum buat lusa. 

Note: jadi beli tiket Fujiko Museum ini sedikit ribet karena: 
1. Harus beli di Loopi Machine yang ada di lawson
2. Loopi Machine hanya berbahasa Jepang. 

Jadi, dari pada saya nunjukin susah, mending kalian tanya ajah sama pegawai Lawson, mereka akan dengan ramah dan berbahsa tarzan melakukannya untuk kita. Note: pegawai2 Lawson nggak seberapa bisa bahasa Inggris. So, Good Luck with that!

Setelah makan Ichiran.. menurut saya Ichiran enak, tapi not worth the wait lah.. kalau2 sampai mau makan Ichiran, coba cari ichiran yang 24 jam, dan makan di jam tidak wajar.. misalnya jam 6 pagi, jam 11 siang, dan jam 3 siang :) karena saya melakukan itu di Osaka dan Ichiran tidak perlu antri hehe!

Lanjut ke hari esok yah! hari paling seru selama perjalanan (menurut saya)! :)

Saturday, March 17, 2018

Freezing Japan 2018 - Day 1: Jakarta - Tokyo (Narita)

Saya janji di posting ini saya akan pasang foto. :)

Somehow yang postingan tanpa foto itu tidak menarik, tapi saya selalu malas kalo posting harus pasang foto. Karena ribet banget, harus pindahin foto dl ke Laptop, then harus diedit menjadi portrait, dan harus di edit menjadi cantik! (ini yang paling penting bruh!). Habis itu masih harus di upload ke blog.

Anyway.. mulai yah cerita hari pertama.

Hari pertama (18Feb18), pesawat kita kebetulan jam 6.35 AM waktu Jakarta, jadi kita lumayan kepotong seharian di jalan. Nah, waktu pulangnya nanti, pesawat kita jam 10.00 PM waktu Jepang, so kita untuk di belakang. Kabar burung, kalau tiket pesawat promo biasanya begitu, pasti ada 1 hari yang kepotong untuk perjalanan, nggak bisa tuh kita dapet pesawat malam pas pulang dan pergi..

Sampai di Narita sudah cukup sore sekitar jam 3. Kebetulan suhu pada saat itu menunjukan angka 3 derajat. Fine! Dengan lenggang kangkung saya yg hanya mengenakan cardigan, PD ajah karena pasti ada garbarata nya kan. Ternyata, nggak di Cengkareng, nggak di Narita, pesawat pada rebutan tempat parkir, so kita harus turun pesawat dan naik bus. Dengan tanpa menggunakan jaket lengkap.

Selesai urusan imigrasi, langsung menuju JR East Travel Service Center, yang ada di lantai basemen. Kesana, kita beli Tokyo Wide Pass yang bisa berlaku 3 hari. FYI, TWP ini harganya 10,000 Y yang berlaku 3 consecutive days after pertama kali penggunaan. Sama seperti JR Pass, TWP juga hanya bisa digunakan untuk JR line (disclaimer: ini hasil research saya yahh..). Bedanya dengan JR, TWP hanya bisa dibeli di Tokyo dengan menunjukkan passport dan hanya berlaku di daerah Kanto (Tokyo dan sekitarnya).

TWP Coverage area:

Waktu beli di JR Center, kita akan ditanya rencana 3 hari penggunaannya oleh petugas yang fasih berbahasa Inggris. Dan, kalau kita sudah tau mau naik kereta apa, kemana, di jam berapa, lebih baik langsung booking tiketnya dari sekarang. 

Sesuai dengan rencana awal, kami akan menggunakan TWP 3 hari untuk: Narita Express menuju AirBnB (tanpa TWP: 3,600 Yen), Tour Kawaguchiko (PP dr Shibuya tanpa TWP 8,000 Yen), dan Gala Yuzawa Ski Resort (PP dari Shibuya tanpa TWP 13,000 Yen). Overall, saya untung hampir 15,000 Yen!

Hari itu, karena kami masing ling lung, baru turun dr pesawat, dan kebetulan Narita Express yang kami pesan akan berangkat 5 menit lagi, si petugas pun hanya bilang: I recommend you to run straight ahead to car 9, and you will catch your train. Yahh ngana ngomong gampang, beta kan baru sampe, bawa 2 koper gede suruh lari2an pulak. Anyway, akhirnya we did her recommendation: To Run. Jadinya, in rushing kita nggak bisa ngebooking2 Shinkansen yang mau kita naikin. 

Anyway, checking on Shinkansen sebelum pergi itu caranya: menggunakan google map (untuk referensi tanggal dan Jan keberangkatan). Dari Google Map, saya cocokan dengan hyperdia (website: http://www.hyperdia.com/en/) untuk mencari nama kereta dan jadwal keretanya. Karena kami menggunakan TWP, nggak usah khawatih lagi sama biaya yg ada di hyperdia, karena semuanya tercover!. Kita tinggal tunjukin TWP card nya ke JR Center dan tinggal pesan.. wala! JR center ada dimana2 kok di statiun2 besar seperti Shinjuku, Asakusa, Ueno, dst. 

Naik Narita Express, locked our baggage on the back of the car, iyah, jd ada bagasinya, trus ada cable lock gitu menggunakan password. Cara penyetelannya ada di situ juga, tapi karena terburu2 nggak sempat saya foto. Tapi percayalah, ada bahasa inggrissnya, dan mudah sekali caranya. Lalu kami duduk manis dan perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam. Lama juga yah!

Narita Express ini ada beberapa jadwal dan pemberhentian (silahkan Check di Hyperdia). Untuk teman2 yang berhenti di Shibuya, tidak semua Narita Express berhenti di Shibuya, so dilihat hati2. Kami, kebetulan kami berhenti di Shibuya, dan AirBnB terletak di Statiun Ikejiri Ohasi (3 min train dr Shibuya - 1 stop or 30 min walking from Shibuya). Jadi di Shibuya, kami mengisi terlebih dahulu Suica Card pinjaman untuk naik subway lanjutan ke Ikejiri Ohasi. 

Suhu pada saat itu menunjukkan 6 derajat. Setelah sampai AirBnB dan malas banget bongkar2 koper, karena sudah jam 8an, dan belum makan malam. Akhirnya kami langsung berangkat mau makan Gyukatsu Motomura di Shibuya. 

Kasih dulu ah penampakannya..


Akhirnya pergilah 2 anak kampung ini berjalan keluar. Di table trip plan saya, karena kita cukup cheapo, saya berencana berjalan kaki dari Ikejiri Ohasi St. sampai ke Gyukansu Motomura Shibuya. Nyatanya, sampai bawah apartemen, akhirnya nggak ada yg bertanya, kaki langsung melangkah masuk ke stasiun untuk naik train. :) Dingin banget bruhh.. laper pula..

Sampai di Gyukatsu setelah sempat nyasar 2-3x dengan pake acara naik turun tangga, ternyata sudah ada antrian sekitar 10 org. Jam 9 malam, suhu: 5 derajat. menunggu dalam kelaparan, dan angin malam, serta badan tropis. BYE. Ini malam paling menyiksa selama perjalanan kami ke Jepang. sungguh. Ditengah2 menunggu, si MT bilang: oiyah yah katanya GM Shibuya lama antrinya karena tempat duduk didalam hanya 9, kalau di Shinjuku ada 20 jd lebih cepat. Kenapa toh yah MT nggak bilang sedari awal. Antara nanggung dan tidak nanggung, akhirnya tetap diputuskan mengantri. 

Antrian berakhir setealh 1.5 jam berdiri dalam angin malam. Masuk ke dalam, langsung mendekatkan tangan pada tungku2 kecil buat bakar daging. Dingin banget sumpah! 

Selesai makan, malam kami diakhiri dengan berlarian di jam 11 malam dengan suhu turun ke 3 derajat, menuju kereta, langsung ke AirBnB. berlaripun aku merasa tak sanggup. Rasanya pengen pulang Jakarta ajah saat itu :(

Lanjut ke hari esok yahh..
Yang nulis juga udah ngantuk, mau bobo siang dulu :)



Freezing Japan 2018 - Prelude

Feel like ages..
Sudah lama sekali saya tidak menulis blog, sungguh saya rindu #toyorwindy

Awalnya sudah mau close ajah blog ini, isinya cuma seputaran TTC yang belum berhasil (ciee ceritanya lelah). Kemudian ada seorang sepupu dari negeri nun-jauh disana mau berkunjung ke Jogja dan dia nanya2.. Akhirnya saya cari blog archive saya dan tinggal kasih ajah link nya ke dia. Nah terus saya berfikir, ternyata mengabadikan blog itu ada gunanya loh. Apalagi pas tempo hari saya persiapan jalan-jalan ke Jepang, saya benar2 terbantu baca blog kiri dan kanan.. So.. saya mau cerita perjalanan saya yang mendadak kemarin ini ke Jepang.. yeay!

Dari tahun lalu kami sudah berkeinginan jalan-jalan, karena jabang bayi yang ditunggu2 selama hampir 3 tahun belum kunjung datang dan yah sudahlah kami lelah (saya doank sih, kalo MT santai kayak di pantai, selou kayak di pulou) dan memutuskan untuk take a break.

Dan somehow, dari tahun 2016 banyak (BANYAK; B A N Y A K) sekali orang Indonesia alan2 ke Jepang. Kenapa yah? Mungkin karena buaian-buaian foto di sosial media yang membuat semua orang merasa FOMO (fear of missing out) dan akhirnya beramai-ramai pergi ke Jepang. Atau mungkin juga karena banyak sekali blog-blog yang bercerita mengenai pergi murah ke Jepang, sehingga membuat Jepang menjadi salah satu tujuan yang "masuk budget".

Di tahun 2017, tadinya kami mau mengajak kedua belah pihak orang tua kami untuk jalan2 bersama2 ke Jepan (bayar sendiri2 kook, saya dan MT belum berpenghasilan sebesar itu untuk membiayai sebuah perjalanan keluarga.. tapi sudah ada niatannya, semoga gajinya makin berkembang #loh). Akhirnya, karena satu dan lain hal, akhirnya, kedua orang tua kami malah berangkat ikut tour dan kami berdua ketinggalan di Jakarta

Akhirnya, di tahun 2018, niatan pergi ke Jepang diwujudkan. Si MT sih maunya tunggu pameran dulu, biar dapet tiket murah. Tapi kalo tunggu pameran akan perginya baru di akhir2 tahun atau at least second half. Sedangkan saya sangant ingin sekali pergi di musim dingin. Dengan berbekal karakter yang dari kecil selalu dipenuhi keinginannya oleh papa (bahasa kerennya: manja), sayapun mulai "merajuk". (Red: merajuknya dikasih tanda kutip yah, karena bukan merajuk menye2 menjatuhkan diri di lantai lalu berguling2 gitu, melainkan merajuk dewasa dengan memasukkan pertimbangan2 berat dan logika alam semesta!) Ternyata, si MT pun punya sifat mirip2 sama Papa saya: tidak tahan rajukan :) yeay!

Suatu malam yang cerah di awal Jan18, dimana AC Grand Indonesia berhembus sangat dingin, kamipun mampir ke Dwi Daya GI. Dari niatan hanya bertanya tiket, sampai akhirnya malah beli Tiket.. #eaaa Mas-masnya Dwi Daya itu loh.. gimana yah pinter banget.. bilangnya gini: Mas, ini tiket perginya tinggal 6 seat dan pulangnya tinggal 9 seat. Harusnya kalo deal besok pagi masih keburu sih. Nanti tinggal hubungi saya saja. Kamipun termakan omongan mas-mas Dwi Daya. Akhirnya kami pergi dengan tiket masing2 seharga IDR 6 Mn dan berangkat 1.5 bulan kemudian. 

Dengan terburu-buru akhirnya kami minta referensi teman-teman yang sudah pergi ke Jepang, membaca blog-blog mengenai transport di Jepan (btw transport Jepang susah BANGET). Daann lain-lain. Sampai suatu ketika, saya membaca di sebuah blog kalau mereka pergi ke Jepang dengan persiapan 6 bulan wow! Tapi sayapun punya seorang teman yang honeymoon pergi ke Jepang, tanpa persiapan matang (yang ngerasa, jangan marah.. nanti tak makan! hehe).

Selama persiapan, langkah-langkah yang kami lakukan adalah:
 1. Tinjau tiket pulang-pergi. Kebetulan kami pergi mendarat di Tokyo dan pulang dari Osaka (walaupun transit dulu ke Tokyo).
 2. Buat itinerary kasar. Misalnya: hari 1 base dimana, mau kemana saja. dst.
 3. Setelah tau base setiap harinya, baru cari Hotel! btw, kami tidak menggunakan Hotel, tapi AirBnB. harga hemat sampai dengan 40%!
 4. Pastikan transport! (salah satu hal tersulit, apalagi kalau tidak pakai JR Pass seperti kami).
 5. Cari makanan. Yang terakhir ini adalah tanggung jawab utama nya si MT. karena dia BANYAK maunya! (dan disinilah budget terbesar kami, sungguh)
 6. Tinjau ulang semuanya! Ini penting banget!
 7. Siapin passport dan visa! Untungnya, karena dari tahun 2017 kami memang berencana ke Jepang, kamipun sudah mengganti passport kami masing2 menggunakan e-passport.

Keuntungan menggunakan e-passport:
1. urus visa mudah, cepat, dan murah (bahkan gratis jika di kedutaan)
2. memaksa kami untuk ke Jepang lagi dalam waktu 3 tahun (Karena e-pass visa berlaku 3 tahun yeay!)
3. udah sih itu doank :) Mulai yahh ceritanya dari persiapan2 kami di atas.


Kartu Kredit Pendukung: BNI JCB terbukti punya rate terbaik di Jepang.

Berdasarkan info dari seorang teman yang juga baru berwisata keluarga ke Jepang, penggunaan kartu kredit BNI berlogo JCB sangatlah membantu. Selain membantu bertransaksi, juga katanya punya rate yang paling murah dibandingkan dengan kartu kredit lainnya. Untungnya kami punya KK tersebut. Ini bukannya Paid Partnership yah (yaaa keleus BNI mau..). Anyhow, kamipun membagi 2 kebutuhan kami di Jepang. Untuk pembelian oleh-oleh dan barang-barang, kami pakai KK, sedangkan untuk makan dan jajan, kami menggunakan Cash.

Barang yang HARUS dibawa: Dompet kartu kecil dan dompet koin.

Lagi, seorang teman memberitahu, kalau pergi ke Jepang jalan-jalan sendiri (tanpa tour) kita harus membawa dompet kecil yang bisa muat kartu subway (kereta bawah tanah yah, bukan sandwich hohoh) dan bisa untuk koinan. Daann ternyata benar adanyaa..Pergi ke Jepang di musim dingin, sangat merepotkan. Dimana kita harus keluar masukin kartu subway dan buka tutup sarung tangan. dengan membawa dompet kartu subway dan jaket berkantong, akan sangat mudah untuk menggunakannya. Kemudian dompet koin. Ini sangat penting karena, transaksi di Jepang (apalagi mau jajanan pinggir jalan) mostly menggunakan koin. Karena harganya hanya berkisar 100-700an Yen (walaupun ada juga yang 1000an), sedangkan uang kertas di Jepang pecahan terkecilnya adalah 1,000 Yen. Lalu, dimana-mana di Jepang BANYAK BANGET Vending Machine dimana harus menggunakan koin.

Perlukah membeli JR Pass? Tergantung kebutuhan.

Kalau menurut saya itu kembali lagi ke masing2 rencana perjalanan. Kebetulan rencana perjalanan saya >7hari (JR Pass kan hanya 7 hari), dan tidak membutuhkan perjalanan PP menggunakan Shinkansen ke Tokyo - karena saya pulang dari Osaka. Mungkin kalau perjalanan yang base nya di Tokyo dan hanya 7 hari, akan lebih membutuhkan. Nanti saya akan share di post terpisah yahh.. karena menurut saya posting ini perlu agak detail, untuk membantu memberi informasi yang mungkin akan berguna.

Belilah tiket-tiket kebutuhan yang bisa dibeli di Jakarta.

Tiket-tiket seperti: Tiket theme park, JR Pass, Kansai Pass, etc. bisa dibeli di Jakarta melalui tour and travel. Karena ada beberapa tiket yang harganya lebih mahal jika dibeli di Jepang, dibandingkan di luar negri sepert Kansai Area Pass. Saya beli 1-day Kansai Pass di HIS tour seharga 2,200 Yen (sesuaikan dengan rate) dan jika dibeli di Jepang, harganya menjadi 2,500 Yen.. kan lumayan 300 Yen bisa buat beli Melon Pan :) Lalu, keuntungan beli Tiket Theme Park di Jakarta, kebetulan kemarin kita beli Uneversal di Jakarta, adalah supaya langsung antri masuk, tanpa antri beli tiket lagi!! :)

Pack light!

Ini penting banget lohhh.. karena saya kemarin kesusahan babawa koper ukuran medium untuk naik turun tangga di Subway station. Untungnya punya Kuli pribadi bernama MT :) Anyway, ini salah dia juga sihh (tetep nggak mau disalahin) Dia bawa baju banyaaaakk bangggeeettt... sehingga akhirnya peralatan lain2nya harus titip di koper saya huhuhu. Jadilah koper saya berat. Dan tambahannya lagi, kami pergi di musim dingin, so berlipat gandalah itu kesesakan koper kami :(

Okei, next posting lanjut ke Day 1 kami yahh! Ciao!
Buat yang siapa tau kebetulan lagi baca dan lagi prepare ke jepang: You'll love it!


Saturday, September 23, 2017

TTC Journey Short Season: Traditional Intermezzo

Haii semuaa... Sudah lama rasanya tidak memberikan para pembaca update yang bermutu..(Kayak banyak pembacanya ajah nyihihihi)

Anyway, posting kali ini juga belum tentu bermutu sihh.. tapi saya tetap mencoba seinformatif mungkin yahh..

Jadi, kemana ajah saya setelah berhasil menjalani PLI? jawabannya: mencoba pengobatan traditional.

Some ppl asked me: why didnt u try IVF or insemination. Itu cara paling mudah untuk getting conceive.
That is totally true. Tapi di dalam lubuk hati kecil saya (tsah elah wiinn bahasa loo!! *toyornih) merasa kalau insem dan IVF itu my very very last bullet in the TTC war. selama masih ada harapan normal, kenapa tidak coba yang normal. So, yah.. masih mencoba normal sampai sekarang xixix.. Oyah, dan ini juga bukan masalah biaya yah.. (bukan berarti uang kami super banyak layaknya Paman Gober), tapi kalau memang sudah harus menggunakan IVF dan insem, yah apa boleh buat, biaya nya berapapun tetap harus dikeluarkan, bukan? Dan bukan berarti jalan menempuh normal conceive itu juga murah. seperti kalian bisa baca, saya sudah rincikan beberapa biaya yang sudah kami keluarkan selama proses. Kalau kata seorang teman saya, biayanya sudah sama seperti membeli chanel boy bags (hiks miris.. langsung buka Reebonz liat2 tas sampe garuk-garuk lantai)..

Anyway, setelah drama PLI selesai, dan seharusnya sudah balik ke Obgyn, kamipun tetap belum memilih2 obgyn handal yang pro PLI. Beberapa teman menyarankan pengobatan traditional. Akhirnya di bulan pertama setelah PLI selesai, kamipun mencoba obat sinseh ampuh dari Medan (saya tidak tau nama sinsehnya..saya hanya beli obatnya, rujukan dari teman). Anyway, obatnya ternyata adalah pai fung yen (dan beberapa jenis obat cina lainnya). Long story short: gagal yo... yah sudah deh..

Next! Another friend told me about her sister yang berhasil conceive dengan bantuan tusuk jarum atau bahasa bekennya: akupuntur. Septerti yang kalian tau, akupuntur ini memang sudah diakui di dunia kedokteran kan.. jadi masih semi-medical lah..Akhirnya kami pun mengunjungi sang sinseh..

Namanya Sinse Arif Budiman Halim (Djoen) di daerah Tosiga (deket banget sama gereja MBK dan sekolah Sang Timur). Pertama kali mengunjungi klinik ini, nampaknya hari keberuntungan buat kami, karena saat itu pasiennya tidak terlalu ramai dan kami dapat nomor muda (karena next kunjungannya selalu antri 3-4 jam *sigh). Masuk, bertemu dengan Koko Sinseh (iyah kokoh, karena guess what?? masih muda BANGET.. mid 30s I might say). Konsultasi pertama sih saya nggak bilang apa2, dia hanya memeriksa denyut nadi kami masing2. Dan langsung memberikan diagnosa. Sebenarnya menurut dia, masalah kami berdua tidak berat. Tapi kok somehow sudah 3 tahun masih belum ada hasil? (ini hanya pertanyaan saya dalam hati). Diagnosa beliau pun (I might say) 90% tepat. Diagnosa sperm nya MT, sama seperti yang diberikan dokter. Begitu pula diagnosa mengenai "antibodi" yang dia berikan. Jadi berpuluh2 juta saya buang untuk mengetauhi kondisi kami itu, hanya ditebak dalam 1x pertemuan dengan si kokoh sinseh hehe.

Akhirnya kamipun di treatment akupuntur dan diberikan obat herbal. Ke si kokoh sinseh ini hanya bertahan 4x pertemuan. alasannya bermacam2: 1) karena pihak lelaki (si MT) kurang percaya kalau bukan "dokter" yang ngomong (walopun dia tidak bilang terus terang, tapi saya bisa menerawang haha!) ; 2) sang sinseh tidak menerima pembayaran menggunakan kartu kredit haha (ini sih masalah cash flow ajah yah.. 3) antriannyaaa..... najubile.. setiap kesana selalu menghabiskan 25% waktu weekend kami.. hiks.. 4) seminggu sekali harus di treatment disana.. so, sangat berat buat kami yang sangat malas ini untuk bolak balik hehe..5) obatnya pahitttt... hehe!

Biaya pengobatan ke Kokoh Sinse adalah 400 rb/ orang /1x pertemuan. So, kami berdua: selama sebulan akan menghabiskan biaya 3.2 juta (tunai). Hebring juga kan harganya.. haha

Sekarang gimana? Sekarang saya ke Obgyn Rujukan di RSIA Hermina (Jatinegara). Padahal Hermina ada dimana-mana (Rumah kami di Jakarta Barat). Tapi sang Dokter hanya praktek disana.

Selanjutnya saya cerita di post berikutnya yah!! biar tidak tercampur ceritanya.

Ciao! Salam semangat TTC! :D


Sunday, July 9, 2017

TTC Journey Season 3: Eps 4 - ASA Terakhir

Judulnya ambigu banget yah..

Anyway, kalian pernah denger nggak phrase: Kalau kalian lagi merasa beruntung, itu artinya doa orang tua kalian sedang didenganrkan dan dikabulkan Tuhan.. #ciee berat bangett..

Nah, kejadian sama saya..
Setelah panjang lebar hasil evaluasi PLI paket pertama (bisa dibaca disini) hasilnya cukup baik.. terjadi peningkatan yang cukup significant, saya pun sesumbar makanan alergi pantangan mulai saya langgar2.. bahkan suatu weekend, saya sempat outing ke Bangkok dan full makan tanpa pantang.

Hasilnya, sayapun nggak PD donk dengan hasil evaluasi PLI ke 4-5-6 yang jatuh pada tanggal 10 June kemarin.. Saat sudah pasrah dengan apapun hasil evaluasinya, tetiba, malah dapat berita baik.. ASA saya sudah jauh lebih rendah lagiii!! Bahkan penurunannya lebih rendah dibandingkan dengan hasil evaluasi pertama, dimana saya sangant taat dengan pantangan makanan alergi2 saya. he he he he. Dan lalu saya sesumbar.

Saran dokter terakhir adalah satu kali lagi suntik PLI dan diharapkan level ASA sudah di 1:64. Dan kemudian sudah boleh buat PR. Asiikk!! (loohh!?) haha.

Ini hasilnya:

Kalau kemarin dokter expected nilai ASA saya akan di 1:512, pada kenyataannya, nilai ASA saya sudah berada di atasnya lagi.. :) Ini yang saya sebut keberuntungan, dimana Tuhan sedang mendengar doa orang tua saya (dan pasti mertua saya - doesn't meant to be discriminative - red hehe).

Next nya ngapain? Kalau menurut dr imunolog nya sih, sudah boleh mulai program2 ke dokter ObGyn lagi.. tapi saya dan suami memutuskan untuk: 1 bulan usaha sendiri, 1 bulan pake obat sinseh, 1 bulan kemudian baru masuk ke ObGyn2an kalo belum berhasil.. hehe.

Oh yah, saya tetap melaksanakan PLI maintenance - yaitu PLI yang dilakukan hanya 6-8 minggu sekali (kalau PLI biasanya dilakukan 3-4 minggu sekali). Hal ini - menurut dokter - hanya untuk mencegah adanya lonjakan nilai ASA sajah. Dan , satu lagi, sayapun harus tetap menjaga asupan alergi. Bukan berarti dengan nilai ASA yang baik, langsung seperti anjing lepas dari kandang makan seluruh makanan yg sudah lama tidak saya makan haha. Tapi saya pasti punya pelanggaran di level: 1 hari 1 x. Walapun hal ini tetap tidak valid di mata suami hehe.

Biar bagaimanapun, saya tetap mencoba disiplin makanan sih.. karena kalo sampe nggak disiplin, harus go through seluruh proses lagi, saya merasa lelah. Dan terutama merasa BOROS!! total PLI yang saya lakukan adalah 7x dengan biaya 1.3 juta per suntikan. ditambah 2x evaluasi juga dengan biaya yang sama per evaluasi. Ditambah lagi, biaya obat makan saya dan suami. Biaya makan siang di Lapo Toba Dream setiap kali PLI ke Budhi Jaya (Euleeeuuhhh... enayaakk hahaha).

Next! Let's see how the ASA score tells us yah! Semoga segera mendapatkan kabar baik..

Ohyah, BTW, kalau para pembaca ada yang tau ObGyn bagus yang pro PLI, tolong share contact nya yah.. karena ObGyn saya yang terdahulu (di RS Bunda) bukan seseorang yang pro PLI. So, saya rasa akan lebih "matching" kalau saya ke dokter yang mendukung apa saja yang telah saya lakukan sampai saat ini. Makasih :)

Ciao!

Saturday, April 1, 2017

TTC Journey - Season 3: Eps 3: Putus(kan) ASA..!

Halo2.. hari ini kembali lagi saya mau cerita mengenai TTC Journey.

Sebelumnya, saya juga mah share tentang posting mengenai hormone testnya si MT yang pernah saya ceritakan di posting ini.

Pertama kali MT disuruh test hormone, itu kami lakukan di sebuah lab di bilangan jakarta barat, berikut hasilnya:

Kemudian, ini adalah hasil test yang dilakukan di klinik dr. Indra - setelah menjalani terapi hormon 8x:

Kalau dilihat di bagian Hormon Prolaktin di hasil test pertama, nampaknya hasilnya tidak kenapa2, karena range atas untuk ukuran normal, sampai di angka 25. Tetapi, ternyata kalau dilihat di klinik dr. Indra, seharusnya rujukan prolaktin untuk pria itu di angka 17.0. Dari hasil test pertama, Prolaktin si MT masih tinggi untuk ukuran pria.. Katanya sih pria dengan prolaktin tinggi ini lebih sensitive (jadi punya perasaan seperti wanita yang emosional haha! Jadi, buat kamu2 yang pasangannya cepat naik darah, coba deh di cek hormone hahahah!! - ajaran sesat ala saya)..

Ok, sekian dengan hormon.

Melanjutkan cerita tentang ASA.
Dari posting Eps 2 kemarin, setelah hormon MT normal, seharusnya langsung jadi tek-dung.. tapi si genderang perang belum juga bersambut (halah!) akhirnya kami menjalani lagi serangkaian test, yang tidak murah.. namanya test Anti Sperm Antibody atau disingkat ASA. Kalau ada yang mau cari2 penjelasan ilmiahnya, bisa di google2 dulu sebelum melanjutkan bacaan cerita ringan saya ini.. hehe.. saya sudah beberapa kali membaca di beberapa source seperti disini, disini dan disini.

Secara singkat ajah, dari hasil desktop research yang sudah saya lakukan dari berbagai forum dan artikel, yang kemudian saya olah dengan bekal ilmu biologi sampai dengan tamat kelas 3SMA (jadi maap yah kalo ada salah)... hehe.. intinya ASA adalah bagian dari antibody (bisa dalam tubuh wanita dan pria) yang menganggap sperm sebagai "musuh". Hasilnya, jika sperm mengenai darah/cairan tubuh lainnya (bisa di vagina mucus) mereka akan membentuk gumpalan (aglutinasi kalo bahasa kerennya) dan tidak dapat melanjutkan perjalanan sampai ke pembuahan.

Kenapa ada juga pada pria? Iyah, dalam beberapa kasus yang sudah saya baca, kalau buah zakar pria ada kelaianan (yang saya juga tidak tau seperti apa jelasnya) yang membuat "ruangan produksi sperm" terkontaminasi dengan darahnya sendiri - yg mengandung ASA tersebut - bisa juga "merusak" produksi.

Test pertama yang kami lakukan adalah Evaluasi ASA pada tubuh saya.
Test ini kalo nggak salah ingat, harganya itu 1.3juta (tahun 2016 akhir). Hasil testnya seperti ini:

Intinya, si pria harus melakukan ejakulasi dan mengeluarkan sprem. Si wanita diambil sampel darahnya (cukup banyak oh no!). Nantinya, si sperm itu di test berapa lama bisa bertahan di dalam darah si wanita tanpa mengalami penggumpalan.

Jadi, cara baca hasil test di atas adalah:
Pertama, lihat di tabel nya dulu..Jangan tanya apa itu 1:8, 1:16, 1:32 dst... karena saya tidak tau apa angka2 tersebut.. hehe. Pokoknya yang kita lihat adalah: tanda positif ada di angka berapa. Untuk rujukan normal, angka positif harusnya berada di angka 1:64. Sedangkan punya saya ada di angka: 1:131ribu. Dan kesimpulannya adalah: ASA sangat tinggi. Iyah memang saya ini orang yang jarang putus asa, dan selalu auban mencoba berkali2 loh! hehehe (apasih).

Kedua, hasil SIV. Saya tidak tau sih ini apa.. tapi kata dokternya nilai saya tinggi, karena saya sering makan junk food! :(
Akhirnya diresepin obat antioksidan yang harus dimakan selama 2 bulan setiap hari, di jam yang sama (saya makan bolong2 dan kadang beda2 jamnya hehe)..

Ketiga, hasil IgE. ini ada hubungannya sama antibody. tapi saya malas research since hasilnya udah bagus hehe.

Next apa? Next adalah PLI (Paternal Leukocyte Immunization).
PLI itu adalah salah satu jalan untuk "mengenalkan" antibody saya ke "unsur tubuh" si MT. Jadi nantinya, saatnya dia untuk "bertemu" kembali dengan si sperm, dia sudah kenal dan tidak "membunuh" si sprem.. kurang lebih begitu.. heheh

Gimana cara mengenalkannya? dengan cara imunimasasi leukosit suami ke istri. Atau dengan cara menyuntikkan sel darah putih suami yang sudah di proses ke tubuh si istri.. ngeri yah teknologi udah hebat banget sekarang :D

Sebelum, PLI, ada beberapa test yang harus dijalani.
Pertama, test HIV suami haha! Penting banget loh ini. Kalau2 suaminya punya virus ataupun infeksi apapun dan melakukan PLI, itu sama saja dengan "suka rela" menularkan ke istri. hehe. Untuk yang ini, untung hasil test si MT bagus.. jd ok untuk proceed ke PLI. Test ini harganya ratusan ribu (saya lupa berapa tepatnya, tapi nggak sampai menginjak angka jutaan).

Kedua adalah test alergi istri. Kenapa harus test alergi? Nah, ini dokternya nggak bilang dengan jelas juga sih, sayapun tidak bertanya. Tapi setelah ketemu dengan immunolog, beliau bilang memang alergi akan sesuatu itu bisa meningkatkan antibody. Trus pertanyaan saya berikutnya: loh saya makan apa ajah nggak pernah loh sampe gatal2 atau bersin2 atau apalah tanda2 alergi yang biasanya ada pada diri manusia. Ternyata jawabannya adalah: memang nggak semua tubuh manusia bisa langsung bereaksi terhadap alergi. Misalnya saya, saya alergi ayam (iyah, ternyata ada loh alergi ayam, saya baru tau) nah saat makan ayam, saya tidak serta merta bentol2, kenapa? karena antibody saya built up untuk mencegah keluarnya reaksi negatif terhadap tubuh saya seperti: gatal2. Tapi karena ketidaktahuan saya, saya terus makan ayam. Dan antibody sayapun terus menerus meningkat, apalagi karena memerangi si ayam. Begitu kira2 ceritanya.

Dan dari hasil test alergi ini, saya alergi.... banyaaaaaaakkkk... dan dari banyak hal itu, adalah hal sehari2 yang saya makan.. seperti: ayam (saya beberapakali masak ayam obat cina padahal huhu), bebek, telur2an, ikan salmon, tenggiri (saya sering bangeett), aneka jeruk (saya suka bangeeet), tomat, aneka keju (huhuhuhu), aneka susu dan dairy, presevative (gak boleh makan indomie lagi huhuhu), pemutih makanan, dan lain2!! huhuhu..

Nah, dari hasil ini, saya harus sebusa mungkin mencegah makan2n yang akan menimbulkan reaksi di tubuh saya. Sayapun nurut.. yah kadang2 ada cheat nya dikit.. tapi ini jaraaaaang banget sih.. Sebenernya yang paling susah ini bukan menghindari makanan alerginya, tapi turunannya, misalnya: kue bolu, indomei pake telur, martabak, mie ayam abang2, baso hangat dikala sedang hujan deras..huhuhu.. kue2an kering, cha time, dum dum, coco.. huhuhuhu dan banyaaaakkk lagi.

Test alergi ini makan biaya 2 juta rupiah (belum termasuk konsultasi immunolog).. tadinya MT juga mau "ikut2an" test.. kan nggak ada salahnya tau mengenai alergi kita.. tapi setelah tau harganya 2 juta, niatnyapun diurungkan.. hehehe

Dari hasil2 di atas akhirnya kami masih maju-mundur dengan keputusan PLI. Kenapa? Pertama, nggak semua dokter kesuburan (baik obgyn maupun androlog) di Indonesia berpegang pada aliran "PLI" ini. Beberapa dokter (misalnya dokter-dokter di salah satu RSIA terkenal di bilangan jakarta pusat) tidak menganjurkan untuk melakukan test antibody. Di beberapa artikel di internet pun masi ada pro dan kontra. Ada yang bilang bahwa antibody itu hanya ada di servical mucus (cairan mulut vagina). Dan hal ini masih bisa diatasi dengan tindakan inseminasi. Sehingga si pasukan sperm tidak melalui cairan tersebut untuk menuju kedalam. Kedua, nggak banyak orang yang sudah berhasil dan bercerita di blog/ di forum tentang keberhasilannya dalam menjalankan PLI.

Tapi akhirnya, setelah bertanya ke beberapa sumber, ada ajah yang berhasil, walaupun setelah 1-2 tahun PLI. Akhirnya bisa memiliki keturunan baik normal, atau dengan bantuan insem/IVF. Akhirnya, kami putus(kan) ASA akan kami perangi dengan PLI!! Nggak ada salahnya kita coba segala cara, walaupun ujungnya di tangan Tuhan. Akhirnya awal Feburary kemarin kami mulai dengan PLI 3x, yang jarak tiap suntikannya 3-4 minggu. Kemudian, saya juga melakukan pantang makanan dari hasil test alergi di atas. Dan saya juga berjanji untuk menceritakan semua proses PLI saya dengan lengkap hehe. Semoga bisa membantu para pembaca yang juga sedang bingung seperti saya dan MT. :)

Biaya PLI setiap suntikan adalah 1.1juta, diluar biaya penyuntikan, oleh immunolog (c.200k).

Oh iyah, ada yang penting info ketinggalan. Selama proses PLI, kami diharuskan menggunakan pengaman saat berhubungan. Kenapa? agar antibody saya benar2 "lupa" sama "musuh"nya heheh...

Di setiap 3x suntik PLI, kami disarankan untuk menjalankan test evaluasi untuk melihat hasil dan perkembangan. Dan hari ini adalah hasil test evaluasi pertama kami keluar. Ini hasilnya:

Belum mencapai 1:64 sihh.. yah as expectedlah, karena tubuh juga butuh waktu untuk penyesuaian kan.. Tapi saya cukup bangga dengan hasil pantangan saya dan PLI kami selama 3x tersebut. Saya berhasil turun 4 tingkat ke 1:8rb. menurut dokter, biasanya orang turun 3 peringkat.

Menurut dokter, kalau 3x PLI lagi sudah bisa turun sampai 1:512, artinya kami sudah boleh mulai "usaha" kami lagi (if u know what I mean). hahah
Makanya, doakan usaha kami yah teman2 semuaa!!

Sekian cerita saya, nampaknya posting ini sangan kepanjangan yah..semoga memberikan sedikit tambahan info.. maafkan saya kalo ada salah2 kata (kok kayak pidato) hahaha

Sampai jumpa di evaluasi PLI kedua!!
Ciao!!