Showing posts with label Try to conceive. Show all posts
Showing posts with label Try to conceive. Show all posts

Sunday, October 6, 2019

TTC Journey - Season 5: Prelude

Sesuai janji Jonii.. Saya akan cerita detail yahh

Kali ini prelude itu sebelum process IVF berjalan - yaitu suka duka manusia kepo. 

Seperti yang saya bilang kemarin, karena rasa keingintahuan saya begitu tergelitik mengenai "unexplained infertility" (sok banget). Karena kayanya aneh ajah ada sesuatu yang tak terjawab.. biasanya semua ada jawabannya. Film Drakor pun tamat dengan penyelesaian hahah (apasih). 

Anyway, suatu hari secara nggak sengaja saya melihat positng foodblogger yang melakukan IVF dan berbagi mengenai kekentalan darah. Kekentalah darah adalah salah satu hal yang belum pernah saya cek selama 5 tahun berkutat dengan reproduksi. Saya juga nggak kepikiran ada hal lain yang bisa menghambat reproduksi. Dan dokter yang saya kunjungi semuanya adalah OB bukan Hematolog juga. Ternyata setelah mulai research dan tanya2, kekentalan darah itu lumayan common sebagai penyebab infertility. 

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai test kekentalan (dan apapun yang berhubungan dengan darah) di bulan Mar19. sejauh hasil research saya, ada 3 dokter hematolog terkenal di Jakarta: Prof Aru, dok Nandang, dan Prof Karmel. Dari ketiga ini, prof karmel yang punya jejak di keluarga MT. So, saya mau coba ke Prof Karmel. Ternyata, sialnya saya, Prof karmel terserang Stroke ringan pada saat itu, dan beliau cuti proktek hingga hampir 2 bulan. Karena saya memang berencana IVF di bulan May, maka nggak ada cukup waktu buat saya. Setelah tanya2 ke RS Cikini (tempat prof karmel praktek), mereka merekomendasikan dokter Rebekka, yang dahulu adalah asst.prof karmel. 

Akhirnya saya ke dok Rebekka, dengan alasan vertigo dan kurang darah (supaya di cover assuransi). Dok Rebekka menyarankan untuk test lab hematologi lengkap-kap-kap. lengkap banget sampe menghabiskan porsi asuransi saya. kalau nggak salah pada saat itu total nya sudah mencapai 6 juta. (Iyah asuransi dari kantor saya memang sepitik...sedih..)

Dari test lengkap tersebut, ada beberapa diagnosa baru yang terngkap (halah udah ky NCIS!): 
1. Protein S deficiency (score: 45% seharusnya 59.8% - ini tiap org berbeda2 yah)
2. Anti Phuspholipid Syndrome (APS - bahasa kerennya kekentalan darah) (score ACA IgM: Indeterminate)
3. Fe (Feritin) deficiency (Score: 42). 

Akhirnya dok rebekka menyarankan untuk infus feritin dulu 2 hari, sehingga score meningkat. Disini saya lakukan dan saya menyesal dan sangat menyayangkan. Score Fe saya itu 42, memang rendah. Tapi range dari lab itu 13-150. Artinya saya masih di batas normal. Karena keterburu-buruan saya, saya tidak ambil pusing dan langsung infus. Setelah infus Fe saya melonjak jadi 400 - malah melebihi batas. Setelah ini, kembali rasa keingintahuan saya tergelitik. Atas saran seorang teman, saya mencoba cari 2nd opt ke Hematolog lain. Akhirnya saya pergi ke dr. Noorwaty di RSPI puri indah. Beliau malah terkejut kenapa sampe harus infus Fe. Karena banyak juga orang yg sudah hamil dengan Fe rendah, hanya diresepin: makan daging. bukan infus Fe. Saya benar2 kecewa dengan diagnosa dokter saat itu. Karena infus Fe sendiri sudah menghabiskan uang yang cukup dalam, walaupun saya pakai asuransi, tetap saja hal yang tidak perlu malah memperparah kondisi. 

Atas rujukan dr. Noorwaty, saya kembali berobat hematolog di MMC, dengan dr. Lugyanti Sukrisna. Dok nya masih cukup muda (mungkin mid 40) dan sangat amat ramah dan informatif. Doc Lugy nggak pernah meresepkan apapun, beliau hanya bilang makan sehat, olahraga teratur. Dari sini saya berkesimpulan bahwa dok ini tidak komersial. Saya sangat merekomndasikan dok Lugy. 

Long story short, dengan melihat semua hasil-hasil test darah saya, doc Lugy sudah yakin benar bahwa pada saatnya nanti saya harus suntik Lovenox (pengencer darah) saat mulai IVF. Ok doc! noted. Doc Lugy hanya menyarankan test berkelanjutan untuk mengetahui apakah benar saya ada APS (salah satu autoimun) dan apakah ada autoimun bawaan lainnya. Thanks God dari hasil yang ada ternyata saya tidak sampai APS dan tidak ada autoimun bawaan. Oh akhirnya untuk Fe dr. Lugy pun menyarankan untuk test ulang. Thanks God, hasilnya sudah turun jauh (karena saya banyak minum untuk membantu penurunan Fe). 

Selanjutnya Doc Lugy menyarankan utnuk kembali ke beliau pada saat setelah ET  (embryo Transfer). sekitar 2 bulan setelah ET, saya kembali konsultasi ke doc Lugy. hasil terakhir test darah saya, ACA sudah turun jauh ke angka normal. Protein S pun sudah normal. Akhirnya saya menjadi orang yang hanya "memiliki bakat" kekentalan darah. yeayy! 

Semua proses hematolog ini juga saya sharing ke Apol. Apol memang akhirnya menyarankan suntik Lovenox setelah diketahui d-dimer saya tinggi setelah ET. Fyi, lovenox ini 1x suntik harganya kisaran 217 - 260 rb (tergantung beli di RS mana; di RSIA Bunda: 260an; di RSIA Family: 217; di RS MMC: 219). Suntik selama kehamilan 1x/hari.. kebayang kan saya harus merogoh kocek berapa lagi sampai 9 bulan. hehe. makanya saya menjadi lebih pelit akhir2 ini. Sebenarnya beli di distributor langsung bisa dan harganya bisa 180rb. Tapi MT agak takut kalau2 barangnya tidak asli. Yah sudah, saya manut ae.. semua demi kebaikan si dodot. 

Cerita sedikit soal suntik Lovenox.. Jadi, suntik Lovenox ini memang disarankan oleh Apol. Tapi sebagai OB dan di RS infertility, mereka tidak begitu mengerti how to inject this thing to your body. Alhasil awal2 kehamilan, perut saya biru semua. biru benar2 biru ky org habis kepentok. ini karena suntiknya mengenai pembuluh darah dan bocor. Saat konsul kembali ke Doc Lugy, beliau terkejut! katanya kebiru2an ini malah bisa meningkatkan d-dimer saya. sayapun terkejut! Akhirnya saya diajarkan cara suntik yang benar oleh sus nya. Suntiknya harus 3 hari dari pusar (ke arah kiri dan kanan). dan HARUS dicubit.. jadi semakin besar, harus cari lokasi yang bisa dicubit. Sekarang biru-biru saya jadi jauh lebih sedikit. oyah BTW, yang suntik MT loh! hehehe. 

Nah, setelah tm (trimester)1 selesai, saya sangat berharap untuk menghentikan suntikan lovenox. namun nampaknya tidak ada dokter yang berani ambil resiko. Bertanya ke Doc Lugy, beliau menyerahkan ke Apol. Bertanya ke Apol, beliau masih gamang. Tapi akhirnya saya dan MT pasrah, walaupun suntiknya sakit, dan harganya mahal. Ini semua demi kebaikan si Dodot. Jadi kalaupun memang harus suntik sampai full term saya terima. Doc mungkin nggak mau ambil resiko karena ini IVF (harganya sendiri sudah kepalang mahal) dan kami sudah TTC selama 5 tahun.. pasti harapannya sudah besar. 

Anyway, sampai tulisan ini diturunkan (halah! udah macam liputan 6 petang) saya masih rajin suntik Lovenox 0.4mg setiap hari. yg suntuk MT. karena kalau panggil sus kerumah, ada biaya tambahan lagi dan kami menghindari itu. MT sudah sangat canggih dalam hal suntik menyuntik karena sekarang makin jarang biru2. Kenapa nggak suntik sendiri? karena saya takut sakit. haha! sakitnya itu bukan saat jarumnya masuk, tapi saat obatnya masuk. Rasanya seperti disayat! bener deh gak bohong. hahaha!

Oyah, update untuk usaha menghentikan suntikan lovenox. Jadi kemarin kami baru melakukan 4d. Dan ternyata juga di cek aliran darah ibu menuju rahim. Ternyata menurut doc 4d. aliran darahnya sedikit tersendat (syok!) atau bahasa kedokterannya, terdapat notching.. tapi untungnya si Dodot sudah dapat asupan maksimal karena berat dan ukuran sesuai usia (bahkan lebih 1 minggu hehe). Kamipun semakin yakin dan mantap untuk tetap melakukan suntik sampai 9 bulan. Ok doc!

Yah demikian suka duka kami yang melakukan TTC dengan berkecendurangan kental darah. Semuanya kami jalani dengan nikmat. karena semua berkat dari Tuhan sudah lebih dari kata cukup. 

Buat teman-teman yang baca dan kebetulan punya case serupa! semangat! mari kita saling menyemangati :D

ciao bravo!

Saturday, October 5, 2019

TTC Journey - Season 5: The last weapon

Haiii

Setelah lama buanget nggak nulis blog..
Apakah ada yg menanti tulisan saya? tentu tidak. (sedih amat)

Dinanti ataupun tidak, saya akan tetap menulis. :D

Di postingan sebelum-sebelumnya (lupa yang mana), nampaknya saya pernah bilang my weapons in TTC journey is IUI and IVF. Well, I did not get lucky with the IUI, then I came out with the very last and the big one: IVF.

Sebenarnya setelah IUI yang gagal, dokter menyarankan untuk mencoba lagi. Tapi, kalo dibayangkan secara logika, IUI itu memang kemungkinannya kecil. Bukan seperti IVF yang sudah pasti dilakukan pembuahan diluar kandungan. Sebenarnya kalo menurut common practice nya para dokter-dokter, coba IUI 3x, kalo masih gagal, baru beranjak ke IVF. Tapi mnurut saya.. 1x IUI = 15 juta.. 3x IUI: 45 juta.. udah setengah jalannya IVF. Itu pertama. Kedua, 1x 2ww dalam 1 sikulus IUI udah makan hati.. apalagi harus dikali 3.. yah kalo IUI kedua bisa berhasil.. since kemungkinannya kecil, kan jadinya juga gimana yahh... mau percaya dan yakin akan berhasil, tapi kok logika berkata lain..

Yah intinya, percobaan TTC (bagaimanapun juga) itu makan hati. apalagi setiap liat hasil TP yang BFN.. siapa setuju??

Singkat cerita, setelah bonusan (nunggu bonus donk, krn kami keluarga berencana haha!), kami memutuskan untuk mulai siklus IVF. Alasan utama IVF: sebenernya dari sisi saya (saya nggak tau dari sisi MT yah.. mungkin harus ditanya sendiri). Saya sudah agak lelah 5 tahun sudah trial and always error. Saya sudah cukup lelah mencari "why?" semuanya tidak terjelaskan (aka unexplained infertility). Atau bisa dibilang juga, I cut my journey short. lagian saya sudah 32, MT juga sudah 32.. kayaknya sudah deh, sudah cukup mapan untuk (jika dijinkan Tuhan) punya keturunan.

Di posting kali ini, saya cerita broad picture nya dulu yah.. nanti detail biaya dan process IVF menyusul di posting2 selanjutnya.

Saya akhirnya melakukan IVF dengan dokter Arie (kalo teman2 baca posting saya dari jaman baheula, pasti udah pernah dengar nama dr. Arie Polim (mari kita singkat menjadi Apol - mohon maap dok, karena saya malas ketik..). Kenapa balik ke Apol? mungkin istilah org pacaran: CLBK sama Apol :) Jadi sebelum saya memutuskan IVF, saya punya seorang teman dekat yang juga IVF dengan Apol dan berhasil. Kemudian, seorang teman kantor juga berkata kalau saudaranya IVF dengan Apol dan berhasil, Dan ada beberapa rentetan cerita IVF dengan Apol dan berhasil. Akhirnya, dengan mata berbinar-binar bak melihat secercah cahaya matahari pagi (lebay banget sumpah), saya melihat adanya harapan di tangan dingin sang dokter. Apol, ku jatuh hati lagi padamu (hehehe!).

Concurrently, (saya lupa saya pernah cerita nggak yah) karena saya orangnya cukup penasaran dengan "unexplained infertility" (padahal udah unxplained, harusnya yah udah).. tapi kan nggak mungkin nggak ada alasan untuk apapun di dunia ini. haha! Akhirnya saya kepo ke dokter hematolog juga. Dari sini, saya di diagnosis "kecenderungan hyper agregasi, ACA positive" Ini apa? (nanti yah posting terpisah - sorry kalo nggak soalnya jd panjang buanget). Dengan berbekal kekepoan dan hasil2 test darah ini, intinya hematolog menyarankan agar (jika) saya mau program, saya harus suntik Lovenox yang aduhayy (baik harga, dan perasaan).

Long story short. tanggal 2May19 saya balik ke Apol di hari kedua AF (Aunt Flo - Haid) tiba. Apol udah nggak inget kalo saya pernah ke dia 3 tahun yang lalu. Ya eayaalaaahhh menurut ngana?! Pasien doi kan segambreng yak.. haha.. lalu, eh lagi ada promo paket Morula! langsunglah saya bersegera ikut mendaftar. All in all, dari biaya normal yang seharusnya bertotal 90-an juta. Saya bisa menghemat sekita 20 juta untuk siklus kali ini (Morula kucinta kamu!).

Selama program berlangsung, sungguh-sungguh diberkati Tuhan. Mengapa? karena semuanya dilancarkan. Total telur yang terambil: 24 (iyah banyak, karena memang saya punya kecenderungan PCO). Dari 24 hanya terbuahi 17 dan jadi embryo dengan kualitas good 8. Transfer Embryo hanya 1. Kenapa? karena kalau 2 dan 22nya jadi, saya terlalu takut untuk hamil kembar. Anyway, saran dari Morula juga hanya 1 embryo transfer karena makanan dan lain2 akan terfokus untuk 1 baby.

2ww dijalankan dengan ridho (bukan dengan ridho roma yah gaes). Kalo kata mama saya, direlakan saja, kalau memang sudah kehendak Tuhan, semuanya juga akan terjadi. Oyah, karena saya punya 24 telur, maka saya sangat rentan terkena OHSS (silahkan di google dulu, mohon maap malas jelasin nyehehe). OHSS sangat menyeksa. Tidur salah, bangun salah, jalan tegak sakit. OHSS berlangsung selama 4 minggu (kurleb). selama OHSS obatnya katanya high protein. thanks to mama yang selalu buatin sari ikan gabus dan selalu kirim kerumah, akhirnya OHSS bisa lewat sigh.

Setelah embryo transfer, saya mengingatkan Apol kalo saya punya kecenderungan hyperagregasi dan ACA positif (ingat: pasien Apol banyak banget, gak mungkin dia ingat case by case pasien satu satu, maka jadi pasien juga harus inisiatif mecari, dan mengingatkan dokter). Akhirnya setelah ET dokter menyuruh test Ddimer (salah satu test kekentalan darah). Bener ajah donk. Ddimer normal itu kurang dari 400 nano per mg.. ddimer saya 2.400 nano per mg..

2ww lewat dengan hasil yang menyenangkan. BFP big fat positive. ketauannya dari hasil test bHCG - aka test darah. Tapi sebagai wanita centil saya tetep beli test pack, karena kalo hamil itu nggak afdol rasanya nggak pake test pack haha! Dont blame me, saya sudah jengah melihat test pack 1 garis selama 5 tahun, boleh donk saya mau liahat test pack 2 garis.. :D

sampai tulisan ini diturunkan, si fetus (si dodot, begitu kami menyebutnya  hehe!) masih berumur 23w dalam kandungan, dengan kelebihan berat badan: 62 gr hehehe.. mamak banyak makan, anak sehat. Masih perlu banyak berdoa, masih panjang perjalanan (bantu doa yah teman2).

Anyway, sekian sharing IVF saya - secara garis besar dulu yahh karena ngantuk dan sudah harus jam suntik lovenox :( Janji deh bakal cerita lengkap selengkap2nya dengan total biaya, biar ibu2 yang lagi mau TTC juga dapat pencerahan.

Doa saya buat semua TTC survivor, semoga kalian bisa iklhas menjalani semua process nya yahh. apapun hasilnya, adalah anugrah Tuhan yang maha besar.

Buat teman-teman yang punya teman sedang TTC, mohon dukung teman-temannya, karena support system is the best key buat survive. Jangan malah dikecilkan hatinya. :)

Sharing for caring, semoga sharing saya bisa menambah semangat teman2 yang baca dan lagi TTC!
Best wishes for us all! :)

Tuesday, November 20, 2018

TTC Journey - Season 4: The Big Fat Result

Here we go after 2 weeks wait..

And the result is.......
*drum rolled* 

Big Fat Negative!

Yah basi deh postingan kali ini haha. Anyway, saya tetep mau posting dan cerita kok. Terutama soal ngapain ajah saya selama two weeks wait. Sebelum baca lanjutan blog saya yang biasanya tidak berfaedah ini, ada baiknya saya kasih link dulu. Coba deh baca dulu link ini..mungkin akan lebih berfaedah hahah..

Udah baca stage nya? Ini orang yang bikin artikel kayaknya udah khatam banget sama yg namanya two weeks wait. Nah, apa ajah yang saya lakukan di tww saya adalah sama persis sama stage yang ada di artikel itu. Tapi saya stop sampe stage 5. 

Sebenernya kalo IUI, itu nggak bener2 tww sihh.. bisa dibilang 17-18 hari. Karena dokter menyuruh saya test di hari ke 17 dengan catatan kalau tidak mens. Dan di hari ke 16 (malam) Aunt Flo is comin' babe! hahaha. Despo? no. Karena di hari ke 14 saya sudah TP dan hasilnya BFN. jadi breakdown moment nya sudah lewat. Hey Hellow Aunt Flo! 

Okeh, ceritanya mulai secara kronologis yahh..

Abis IUI, kebetulan saya cuti 3 hari. Tidur2an bobo2an ajah dirumah. Dan yang paling enak, I can bossing around like a Princess! haha. Di 3 hari itu hidup saya dilayani sama mama (love u mama!) yang dateng tiap hari bawain makanan, masakin makanan haha!. Si MT juga jadi korban (i.e. tutup buka pager carport sendiri, dimitain ambil minum dll) nyehehehe (ketawa setan penuh arti). 

3 hari dihabiskan dirumah, sebenarnya saya bosan. Padahal udah stock novel, film serian, bahkan FTV ajah saya tonton saking bosan2nya dirumah. Satu lagi yang super intens saya lakukan saat 3 hari cuti: Google intensively. Sama persis sama yang ada di artikel itu : baca forum2 IUI dari dalam negri sampe mancanegara. haha! 

Kemudian masuk kekantor di hari berikutnya, tau2 kerjaan menumpuk. Yah mau gak mau diberes2in dengan sabar dan sebisa mungkin tidak stress. Tapi, apa bisa? haha Karena ada kerjaan, Google pun sudah terlupakan. Sejak masuk kantor, saya sudah berhenti google2 soal IUI dan kapan orang2 pada melakukan TP after IUI. So, ada bagusnya juga sih masuk kantor, jadinya ada distraksi (is that even a word??) haha!

Fast forward ke 14dpIUI (14 days passed IUI). Abis TP pagi2, udah menyiapkan mental: kalo negative, yah memang belum saatnya. Anyway, saya agak yakin hasilnya negative karena bantuan Fitbit (promo dikit). Jadi sebelum IUI, saya akhirnya beli Fitbit Alta HR, yang bisa mengukur Resting Heart Rate (RHR) di tiap hari nya. Saya ketemu di beberapa forum, kalau wanita hamil itu RHR nya meningkat sampat 15% dan terus stabil tanpa turun sampai kehamilan 3 bulan. Singkat cerita, RHR ini fungsinya sedikit mirip sama ukuran suhu basal tubuh. Kalo para TTC warrior pasti ngerti kan kalo pas Ovulasi pasti suhu basal drop dulu baru ovulasi, naik lagi. Begitu juga pas mau mens, suhu basal pasti rendah banget. RHR sama persis grafiknya seperti itu, tanpa repot2 harus beli alat ukur ovulasi kann (#promo). 

Nah, RHR saya sudah turun di sekitar 10dpIUI. Jadi, saya berkesimpulan sudah kayaknya gagal. 

Tapi yah namanya manusia, tetep ajah berharap ada miracle haha! Jadi tetep ajah di test tuh 14dpIUI. Yah keluarnya kan BFN yah. tapi sudah persiapan mental sebenernya.

Breakdown moment? Ada lah pasti yah.. namanya juga usaha, pasti menaruh harapan juga kan. Tapi abis breakdown nggak boleh menyerah kan? Seorang teman sekantor saya bilang: kalo lo mau coba IUI, jangan sekali-sekali gagal trus nyerah. Lo harus kuat mental dan put commitment. Jadi IUI bukan cara yang 100% akan berhasil dalam one shot, tapi kalo bbrp kali, chance berhasilnya (konon katanya) lebih besar. 

Jadi, next apalagi dari saya? Saya pun belum tau sih.. tergantung rejeki, tergantung hasil konsultasi dokter (dokternya lagi liburan 1.5 bulan asik banget yak). Selanjutnya apakah IUI lagi, apakah ke IVF. saya dan MT pun belum memutuskan. In the meantime, 1) usaha secara normal #hasek 2) olahraga teratur (pastinya dibantu oleh Fitbit - promosi), 3) jaga makan, 4) tetap berdoa. Udah itu dulu deh. Jangan kebanyakan, nanti saya bingung jalaninnya. haha #IQjongkok 

Oke, buat teman2 on the same boat yang kebetulan baca, tetap semangat yah girls! Apapun hasilnya, yang penting percaya ajah proses yang kita lalui pasti memberi pelajaran hidup berharga. Nantinya kalo di fast forward ke 10 mungkin 20 tahun mendatang, akan menjadi "hanya kisah lama". Tinggal kita yang pilih, mau jadi "kisah manis" atau "kisah pahit". Tetap Semangat!

Sunday, November 4, 2018

TTC Journey - Season 4: The First Bullet

Males banget rasanya melanjutkan blog cerita soal alan-alan ke Jepang. haha

Gapapa yah gak usah dilanjutin. Udah banyak ini yang cerita soal alan2 kesana. Sayapun bukan expert blogger soal jalan2 hahah (blogger ngasal).

Enakan cerita hal baru ajah. Hal yang selalu jadi bahan google buat buibu yang lagi dalam proses TTC seperti saya. hehe.

Okei, sebelum mulai ke topik, saya mau intermezzo dulu soal apa yang terjadi setahun belakangan.

Terakhir saya post disini adalah mengenai Traditional (tusuk jarum) way untuk TTC. itu kira2 tahun lalu persis yah..trus posting TTC saya menghilang. hehe. Karena Blogger nya malas (suka-suka blogger donk!) dan sibuk kerja (kerjaan: daydreamer).

Jadi di penutupan tahun 2017, saya sempat ke satu dokter, namanya Dr. Judi Endjun di Hermina Jatinegara. Saya ke beliau atas saran seorang teman yang berhasil TTC sama beliau. Pertama kali ke beliau kesan yang saya dapat: 1) dokternya baik banget, 2) dokternya teliti banget, 3) konsultasinya murah (halfprice dari BIC Menteng). Tapi the MAIN downside nya adalah: Jauuuuhhh banget minta ampuuunnn... Jatinegara pula Broo... macet parah.. saya pernah dr rumah kesana makan waktu 2 jam lebih. BYE.

Saya kira2 sudah 3-4x kesana. Sama Pak Dokter saya disuruh papsmear (dan dokternya super teliti soal papsmear ini bro). Kemudian, disuruh test lab: 1) servical mucus, 2) test lab air yang dipakai dirumah, 3) Test SA. Saat test servical mucus, dokter menemukan adanya bakteri, jadi diobatin dulu deh. Saya dikasih antibiotik yang menurut saya lumayan keras sampai bikin mencret2 selama 1 minggu. Sudah beres dengan hal ini, saya tidak kesana lagiii haha.. karena lelah dan super jauh.

OK next.
Awal tahun 2018 mendadak jalan-jalan dulu ke Jepang, dan stop TTC. Sayapun sempat pindah kantor, dan selama masa probation, saya tidak TTC dulu juga. Akhirnya baru deh di bulan October, mulai lagi TTC (lamaa yahh absen nya).

Sesuai judulnya, "The First Bullet" - ini artinya senjata pertama saya untuk TTC. Setelah lelah TTC normal cycle yang tak kunjung berhasil. Dan juga karena sudah menginjak kepala 3, sudahlah saya bilang sama MT, sudah saatnya ikutan "Assisted Reproductive". First Step: Intra Urine Insemination atau bahasa kerennya "IUI".

Pilih-pilih dokter.
Oyah di awal tahun 2018 saya sempat ke dr. Aryando Pradana (salah satu dokter ganteng di BIC #eh). Hal ini untuk sekedar pengecekan biasa ajah. kebetulan saya datang di H+13. Dan dokter bilang "ibu nampaknya ada bakat PCO" #jeng! tolong kurangin makan nasi putih dan gula, tapi nasi merah nggak apa2. Ok, siap Dok!

Jadi saat IUI, saya balik lagi ke dr. Nando (panggilan beken nya). Kenapa nggak balik ke Dr. Arie? kan sama2 di BIC. Sebenar2nya adalah karena "tidak enak". Dulu saya pernah ke Dr. Arie, and we bailed on him karena belum mau disuruh IUI pada tahun 2016 (anak nakal). Sebenernya dokternya juga pasti lupa lah yah.. secara buanyak buanged pasien BIC. Anyway, karena denger2 dr. nando juga bagus, akhirnya kami memutuskan ke dokter muda nan ganteng ini #eh.

Soo.. di pertengahan oktober yang cerah, burung2 berkicau, dan sama ke dokter (apasih). Pas di hari H+2, pake acara drama dulu sama admin nya BIC karena ternyata nama saya tidak terdaftar, dan saya marah2. Akhirnya bisa langsung masuk pas jam makan siang. Yey! Makasih Pak Dokter!

H+2, seperti biasa, di transv. dan hasilnya kata dokter baik2 saja, semua normal, siap dikasih obat stimulasi. cikal bakal telur sudah terlihat (kata dokter - yg saya liat cuma burem2 abu2 di layar USG). Saya dikasih obat: Femaplex 2x1 (selama 5 hari) dan dilanjutkan dengan suntikan Gonal F @75iu (selama 4hari setelahnya). Dikasih Femaplex sama PakDok karena dulu dikasih Femara sama Dr. Arie dan belum berhasil (ada di catatan history nya BIC). So coba ganti obat (kata PakDok).

H+11, setelah habis makan Femaplex dan habis suntik, saya kembali konsul ke dokter. Dicek telurnya sudah berapa banyak, dan berapa besar. Kalau besar telurnya sudah cukup, langsung lanjut suntuk Ovidrel a.k.a. stimulasi untuk ovulasi, dan besoknya akan IUI. Ternyata hasilnya: telur ada 8 (buset udah kaya mau IVF), kiri 4, kanan 4. Semuanya besarannya baru kira2 baru 15-17 mm. Sepersekian detik mendengar berita ini, saya senang karena kan banyak telur artinya bagus bukan yah? hahahaha udah ky ayam petelur. Ternyata PakDok nya concern - karena sebenarnya ada resiko kehamilan multiple (bisa 3, bisa 4, bisa 5 - jadi inget vaerity show Outdaughtered di TLC). Ok, ternyata ini serius. Ternyata saya overstimulate (aduh saya emank anaknya sensitif, gampang terstimulasi #apasih). Anyway, Dokter bilang gini: Ibu diskusi ajah dulu sama bapak (kebetulan si MT nggak ikut konsul kali ini) apakah mau di drop IUI cycle kali ini atau mau dilanjutkan. (ngeri gak sih denger begini hahaha). Kalau dilanjutkan, saya kasih suntik Gonal F @75iu 2x lagi, karena besaran telurnya belum cukup.

Dokternya pun menjelaskan kalau potensi keberhasilan IUI itu 20%. Dan potensi multiple pregnancy untuk IUI dengan telur banyak juga 20%. Otak sayapun berfikir secara cepat (untuk lg cenghar), brarti kemungkinan IUI berhasil dengan multiple pregnancy kan cuman 20% x 20% yakk.. cuman 4%. Akhirnya tlp sama MT, dan kita putuskan lanjuttt!! Happy go lucky ajahlahh..

H+13, setelah 2x tambahan suntik Gonal F, sayapun kembali lagi ke dokter. Kali ini digantikan dengan Dr. Merry, karena hari minggu dr.nando nggak praktek. Oyah, sebelumnya, saya tuh punya perasaan kalo saya udah ovulasi tanpa ovidrel, karena sabut malam sebelum ke dokter saya merasa ini perut rasanya begah banget. Jam 3 pagi saya bangun dan pipis, perutpun terasa sangat keram. Ternyata waktu di USG sama BuDok, bener ajah, dr 8 telur, sudah ovulasi7, sisanya tinggal 1. JENG JENG JENG JENG!!

IUI - 1, hari itu juga langsung dijadwalkan IUI pertama dengan Dr. Reino (again, Dokter Nando lg nggak praktek, jadi pakai dokter pengganti). Dokter Reino juga baik banget, prosesnya IUI nya sakit2 dikit ajah. Kalo ada yg penasaran apa yang dilakukan selama IUI, bayangkan seperti papsmear atau HSG. Sama persis rasanya. Akhirnya jam 11.30 IUI pertama saya sudah terlaksana, dengan sperm count after wash ada 8.1juta (katanya sih bagus - tapi nggak tau menurut standard mana).

IUI -2, besoknya, saya kembali ke BIC untuk IUI kedua, dengan sperm count 7.3juta. Kenapa 2x? karena dokter said so. Yah saya manut ajah lah. Dokter tau yang terbaik. di hari ini saya cuma IUI ajah, dan sama dokter Nando. habis itu langsung pulang.

TWW - two weeks wait. 2 minggu terlama dalam hidup saya. dan sampai tulisan ini diturunkan, saya masih ada dalam masa tww haha!

Perasaan saat ini:
kaya abis ujian lagi nunggu nilai keluar. Nggak terlalu ngarep, karena kan hanya 20% tingkat keberhasilannya yah.. tapi juga tetap berdoa, karena perjuangan kita manusia sudah maksimal sampai tahap ini, tinggal Tuhan yang menentukan. AMIN.

Okehh..
Now, ngomongin rekapan Biaya (semua dalam ribuan rupiah yahh).
H+2:
Konsul dokter : 560
Admin : 60
Femaplex 2.5mg (10 tablet) : 282
Gonal F 4x @75iu : 2,628
Tonicard capsule 30 (ini obat buat si MT): 936
Note:sebenarnya ada lagi 1 obat buat MT: Starfer, harganya 1.2 juta, tapi tidak saya tebus karena ke sotoy-an saya. lumayan kan hemat 1.2Juta.
Total : 4,466

H+11:
Konsul dokter : 560
Admin : 60
Tambahan Gonal F 2x @75iu : 1,340
Total : 1,960

H+13:
konsul dokter: 870 (kena charge holideiiiii!!! *sedih*)
admin: 80 (kena charge holidei lagiii *sedih*)
Tindakan IUI 1 : 2,850
Obat2an setelah IUI:
Ascardia 20 tablet : 28
Duphaston 30 tablet : 813
Prohelic 20 tablet: 202
Total: 4,843

H+14:
IUI 2: 2,850

Grand total IUI 2018: 14,119 (mahal yahh)..
(anyway, karena sudah ovulasi duluan, so saya hemat 870rb untuk suntik ovidrel)


Ciao Bravo!
sampai jumpa di update berikutnya, semoga saja BFP! Amin for that.

Saturday, September 23, 2017

TTC Journey Short Season: Traditional Intermezzo

Haii semuaa... Sudah lama rasanya tidak memberikan para pembaca update yang bermutu..(Kayak banyak pembacanya ajah nyihihihi)

Anyway, posting kali ini juga belum tentu bermutu sihh.. tapi saya tetap mencoba seinformatif mungkin yahh..

Jadi, kemana ajah saya setelah berhasil menjalani PLI? jawabannya: mencoba pengobatan traditional.

Some ppl asked me: why didnt u try IVF or insemination. Itu cara paling mudah untuk getting conceive.
That is totally true. Tapi di dalam lubuk hati kecil saya (tsah elah wiinn bahasa loo!! *toyornih) merasa kalau insem dan IVF itu my very very last bullet in the TTC war. selama masih ada harapan normal, kenapa tidak coba yang normal. So, yah.. masih mencoba normal sampai sekarang xixix.. Oyah, dan ini juga bukan masalah biaya yah.. (bukan berarti uang kami super banyak layaknya Paman Gober), tapi kalau memang sudah harus menggunakan IVF dan insem, yah apa boleh buat, biaya nya berapapun tetap harus dikeluarkan, bukan? Dan bukan berarti jalan menempuh normal conceive itu juga murah. seperti kalian bisa baca, saya sudah rincikan beberapa biaya yang sudah kami keluarkan selama proses. Kalau kata seorang teman saya, biayanya sudah sama seperti membeli chanel boy bags (hiks miris.. langsung buka Reebonz liat2 tas sampe garuk-garuk lantai)..

Anyway, setelah drama PLI selesai, dan seharusnya sudah balik ke Obgyn, kamipun tetap belum memilih2 obgyn handal yang pro PLI. Beberapa teman menyarankan pengobatan traditional. Akhirnya di bulan pertama setelah PLI selesai, kamipun mencoba obat sinseh ampuh dari Medan (saya tidak tau nama sinsehnya..saya hanya beli obatnya, rujukan dari teman). Anyway, obatnya ternyata adalah pai fung yen (dan beberapa jenis obat cina lainnya). Long story short: gagal yo... yah sudah deh..

Next! Another friend told me about her sister yang berhasil conceive dengan bantuan tusuk jarum atau bahasa bekennya: akupuntur. Septerti yang kalian tau, akupuntur ini memang sudah diakui di dunia kedokteran kan.. jadi masih semi-medical lah..Akhirnya kami pun mengunjungi sang sinseh..

Namanya Sinse Arif Budiman Halim (Djoen) di daerah Tosiga (deket banget sama gereja MBK dan sekolah Sang Timur). Pertama kali mengunjungi klinik ini, nampaknya hari keberuntungan buat kami, karena saat itu pasiennya tidak terlalu ramai dan kami dapat nomor muda (karena next kunjungannya selalu antri 3-4 jam *sigh). Masuk, bertemu dengan Koko Sinseh (iyah kokoh, karena guess what?? masih muda BANGET.. mid 30s I might say). Konsultasi pertama sih saya nggak bilang apa2, dia hanya memeriksa denyut nadi kami masing2. Dan langsung memberikan diagnosa. Sebenarnya menurut dia, masalah kami berdua tidak berat. Tapi kok somehow sudah 3 tahun masih belum ada hasil? (ini hanya pertanyaan saya dalam hati). Diagnosa beliau pun (I might say) 90% tepat. Diagnosa sperm nya MT, sama seperti yang diberikan dokter. Begitu pula diagnosa mengenai "antibodi" yang dia berikan. Jadi berpuluh2 juta saya buang untuk mengetauhi kondisi kami itu, hanya ditebak dalam 1x pertemuan dengan si kokoh sinseh hehe.

Akhirnya kamipun di treatment akupuntur dan diberikan obat herbal. Ke si kokoh sinseh ini hanya bertahan 4x pertemuan. alasannya bermacam2: 1) karena pihak lelaki (si MT) kurang percaya kalau bukan "dokter" yang ngomong (walopun dia tidak bilang terus terang, tapi saya bisa menerawang haha!) ; 2) sang sinseh tidak menerima pembayaran menggunakan kartu kredit haha (ini sih masalah cash flow ajah yah.. 3) antriannyaaa..... najubile.. setiap kesana selalu menghabiskan 25% waktu weekend kami.. hiks.. 4) seminggu sekali harus di treatment disana.. so, sangat berat buat kami yang sangat malas ini untuk bolak balik hehe..5) obatnya pahitttt... hehe!

Biaya pengobatan ke Kokoh Sinse adalah 400 rb/ orang /1x pertemuan. So, kami berdua: selama sebulan akan menghabiskan biaya 3.2 juta (tunai). Hebring juga kan harganya.. haha

Sekarang gimana? Sekarang saya ke Obgyn Rujukan di RSIA Hermina (Jatinegara). Padahal Hermina ada dimana-mana (Rumah kami di Jakarta Barat). Tapi sang Dokter hanya praktek disana.

Selanjutnya saya cerita di post berikutnya yah!! biar tidak tercampur ceritanya.

Ciao! Salam semangat TTC! :D


Sunday, July 9, 2017

TTC Journey Season 3: Eps 4 - ASA Terakhir

Judulnya ambigu banget yah..

Anyway, kalian pernah denger nggak phrase: Kalau kalian lagi merasa beruntung, itu artinya doa orang tua kalian sedang didenganrkan dan dikabulkan Tuhan.. #ciee berat bangett..

Nah, kejadian sama saya..
Setelah panjang lebar hasil evaluasi PLI paket pertama (bisa dibaca disini) hasilnya cukup baik.. terjadi peningkatan yang cukup significant, saya pun sesumbar makanan alergi pantangan mulai saya langgar2.. bahkan suatu weekend, saya sempat outing ke Bangkok dan full makan tanpa pantang.

Hasilnya, sayapun nggak PD donk dengan hasil evaluasi PLI ke 4-5-6 yang jatuh pada tanggal 10 June kemarin.. Saat sudah pasrah dengan apapun hasil evaluasinya, tetiba, malah dapat berita baik.. ASA saya sudah jauh lebih rendah lagiii!! Bahkan penurunannya lebih rendah dibandingkan dengan hasil evaluasi pertama, dimana saya sangant taat dengan pantangan makanan alergi2 saya. he he he he. Dan lalu saya sesumbar.

Saran dokter terakhir adalah satu kali lagi suntik PLI dan diharapkan level ASA sudah di 1:64. Dan kemudian sudah boleh buat PR. Asiikk!! (loohh!?) haha.

Ini hasilnya:

Kalau kemarin dokter expected nilai ASA saya akan di 1:512, pada kenyataannya, nilai ASA saya sudah berada di atasnya lagi.. :) Ini yang saya sebut keberuntungan, dimana Tuhan sedang mendengar doa orang tua saya (dan pasti mertua saya - doesn't meant to be discriminative - red hehe).

Next nya ngapain? Kalau menurut dr imunolog nya sih, sudah boleh mulai program2 ke dokter ObGyn lagi.. tapi saya dan suami memutuskan untuk: 1 bulan usaha sendiri, 1 bulan pake obat sinseh, 1 bulan kemudian baru masuk ke ObGyn2an kalo belum berhasil.. hehe.

Oh yah, saya tetap melaksanakan PLI maintenance - yaitu PLI yang dilakukan hanya 6-8 minggu sekali (kalau PLI biasanya dilakukan 3-4 minggu sekali). Hal ini - menurut dokter - hanya untuk mencegah adanya lonjakan nilai ASA sajah. Dan , satu lagi, sayapun harus tetap menjaga asupan alergi. Bukan berarti dengan nilai ASA yang baik, langsung seperti anjing lepas dari kandang makan seluruh makanan yg sudah lama tidak saya makan haha. Tapi saya pasti punya pelanggaran di level: 1 hari 1 x. Walapun hal ini tetap tidak valid di mata suami hehe.

Biar bagaimanapun, saya tetap mencoba disiplin makanan sih.. karena kalo sampe nggak disiplin, harus go through seluruh proses lagi, saya merasa lelah. Dan terutama merasa BOROS!! total PLI yang saya lakukan adalah 7x dengan biaya 1.3 juta per suntikan. ditambah 2x evaluasi juga dengan biaya yang sama per evaluasi. Ditambah lagi, biaya obat makan saya dan suami. Biaya makan siang di Lapo Toba Dream setiap kali PLI ke Budhi Jaya (Euleeeuuhhh... enayaakk hahaha).

Next! Let's see how the ASA score tells us yah! Semoga segera mendapatkan kabar baik..

Ohyah, BTW, kalau para pembaca ada yang tau ObGyn bagus yang pro PLI, tolong share contact nya yah.. karena ObGyn saya yang terdahulu (di RS Bunda) bukan seseorang yang pro PLI. So, saya rasa akan lebih "matching" kalau saya ke dokter yang mendukung apa saja yang telah saya lakukan sampai saat ini. Makasih :)

Ciao!

Saturday, April 1, 2017

TTC Journey - Season 3: Eps 3: Putus(kan) ASA..!

Halo2.. hari ini kembali lagi saya mau cerita mengenai TTC Journey.

Sebelumnya, saya juga mah share tentang posting mengenai hormone testnya si MT yang pernah saya ceritakan di posting ini.

Pertama kali MT disuruh test hormone, itu kami lakukan di sebuah lab di bilangan jakarta barat, berikut hasilnya:

Kemudian, ini adalah hasil test yang dilakukan di klinik dr. Indra - setelah menjalani terapi hormon 8x:

Kalau dilihat di bagian Hormon Prolaktin di hasil test pertama, nampaknya hasilnya tidak kenapa2, karena range atas untuk ukuran normal, sampai di angka 25. Tetapi, ternyata kalau dilihat di klinik dr. Indra, seharusnya rujukan prolaktin untuk pria itu di angka 17.0. Dari hasil test pertama, Prolaktin si MT masih tinggi untuk ukuran pria.. Katanya sih pria dengan prolaktin tinggi ini lebih sensitive (jadi punya perasaan seperti wanita yang emosional haha! Jadi, buat kamu2 yang pasangannya cepat naik darah, coba deh di cek hormone hahahah!! - ajaran sesat ala saya)..

Ok, sekian dengan hormon.

Melanjutkan cerita tentang ASA.
Dari posting Eps 2 kemarin, setelah hormon MT normal, seharusnya langsung jadi tek-dung.. tapi si genderang perang belum juga bersambut (halah!) akhirnya kami menjalani lagi serangkaian test, yang tidak murah.. namanya test Anti Sperm Antibody atau disingkat ASA. Kalau ada yang mau cari2 penjelasan ilmiahnya, bisa di google2 dulu sebelum melanjutkan bacaan cerita ringan saya ini.. hehe.. saya sudah beberapa kali membaca di beberapa source seperti disini, disini dan disini.

Secara singkat ajah, dari hasil desktop research yang sudah saya lakukan dari berbagai forum dan artikel, yang kemudian saya olah dengan bekal ilmu biologi sampai dengan tamat kelas 3SMA (jadi maap yah kalo ada salah)... hehe.. intinya ASA adalah bagian dari antibody (bisa dalam tubuh wanita dan pria) yang menganggap sperm sebagai "musuh". Hasilnya, jika sperm mengenai darah/cairan tubuh lainnya (bisa di vagina mucus) mereka akan membentuk gumpalan (aglutinasi kalo bahasa kerennya) dan tidak dapat melanjutkan perjalanan sampai ke pembuahan.

Kenapa ada juga pada pria? Iyah, dalam beberapa kasus yang sudah saya baca, kalau buah zakar pria ada kelaianan (yang saya juga tidak tau seperti apa jelasnya) yang membuat "ruangan produksi sperm" terkontaminasi dengan darahnya sendiri - yg mengandung ASA tersebut - bisa juga "merusak" produksi.

Test pertama yang kami lakukan adalah Evaluasi ASA pada tubuh saya.
Test ini kalo nggak salah ingat, harganya itu 1.3juta (tahun 2016 akhir). Hasil testnya seperti ini:

Intinya, si pria harus melakukan ejakulasi dan mengeluarkan sprem. Si wanita diambil sampel darahnya (cukup banyak oh no!). Nantinya, si sperm itu di test berapa lama bisa bertahan di dalam darah si wanita tanpa mengalami penggumpalan.

Jadi, cara baca hasil test di atas adalah:
Pertama, lihat di tabel nya dulu..Jangan tanya apa itu 1:8, 1:16, 1:32 dst... karena saya tidak tau apa angka2 tersebut.. hehe. Pokoknya yang kita lihat adalah: tanda positif ada di angka berapa. Untuk rujukan normal, angka positif harusnya berada di angka 1:64. Sedangkan punya saya ada di angka: 1:131ribu. Dan kesimpulannya adalah: ASA sangat tinggi. Iyah memang saya ini orang yang jarang putus asa, dan selalu auban mencoba berkali2 loh! hehehe (apasih).

Kedua, hasil SIV. Saya tidak tau sih ini apa.. tapi kata dokternya nilai saya tinggi, karena saya sering makan junk food! :(
Akhirnya diresepin obat antioksidan yang harus dimakan selama 2 bulan setiap hari, di jam yang sama (saya makan bolong2 dan kadang beda2 jamnya hehe)..

Ketiga, hasil IgE. ini ada hubungannya sama antibody. tapi saya malas research since hasilnya udah bagus hehe.

Next apa? Next adalah PLI (Paternal Leukocyte Immunization).
PLI itu adalah salah satu jalan untuk "mengenalkan" antibody saya ke "unsur tubuh" si MT. Jadi nantinya, saatnya dia untuk "bertemu" kembali dengan si sperm, dia sudah kenal dan tidak "membunuh" si sprem.. kurang lebih begitu.. heheh

Gimana cara mengenalkannya? dengan cara imunimasasi leukosit suami ke istri. Atau dengan cara menyuntikkan sel darah putih suami yang sudah di proses ke tubuh si istri.. ngeri yah teknologi udah hebat banget sekarang :D

Sebelum, PLI, ada beberapa test yang harus dijalani.
Pertama, test HIV suami haha! Penting banget loh ini. Kalau2 suaminya punya virus ataupun infeksi apapun dan melakukan PLI, itu sama saja dengan "suka rela" menularkan ke istri. hehe. Untuk yang ini, untung hasil test si MT bagus.. jd ok untuk proceed ke PLI. Test ini harganya ratusan ribu (saya lupa berapa tepatnya, tapi nggak sampai menginjak angka jutaan).

Kedua adalah test alergi istri. Kenapa harus test alergi? Nah, ini dokternya nggak bilang dengan jelas juga sih, sayapun tidak bertanya. Tapi setelah ketemu dengan immunolog, beliau bilang memang alergi akan sesuatu itu bisa meningkatkan antibody. Trus pertanyaan saya berikutnya: loh saya makan apa ajah nggak pernah loh sampe gatal2 atau bersin2 atau apalah tanda2 alergi yang biasanya ada pada diri manusia. Ternyata jawabannya adalah: memang nggak semua tubuh manusia bisa langsung bereaksi terhadap alergi. Misalnya saya, saya alergi ayam (iyah, ternyata ada loh alergi ayam, saya baru tau) nah saat makan ayam, saya tidak serta merta bentol2, kenapa? karena antibody saya built up untuk mencegah keluarnya reaksi negatif terhadap tubuh saya seperti: gatal2. Tapi karena ketidaktahuan saya, saya terus makan ayam. Dan antibody sayapun terus menerus meningkat, apalagi karena memerangi si ayam. Begitu kira2 ceritanya.

Dan dari hasil test alergi ini, saya alergi.... banyaaaaaaakkkk... dan dari banyak hal itu, adalah hal sehari2 yang saya makan.. seperti: ayam (saya beberapakali masak ayam obat cina padahal huhu), bebek, telur2an, ikan salmon, tenggiri (saya sering bangeett), aneka jeruk (saya suka bangeeet), tomat, aneka keju (huhuhuhu), aneka susu dan dairy, presevative (gak boleh makan indomie lagi huhuhu), pemutih makanan, dan lain2!! huhuhu..

Nah, dari hasil ini, saya harus sebusa mungkin mencegah makan2n yang akan menimbulkan reaksi di tubuh saya. Sayapun nurut.. yah kadang2 ada cheat nya dikit.. tapi ini jaraaaaang banget sih.. Sebenernya yang paling susah ini bukan menghindari makanan alerginya, tapi turunannya, misalnya: kue bolu, indomei pake telur, martabak, mie ayam abang2, baso hangat dikala sedang hujan deras..huhuhu.. kue2an kering, cha time, dum dum, coco.. huhuhuhu dan banyaaaakkk lagi.

Test alergi ini makan biaya 2 juta rupiah (belum termasuk konsultasi immunolog).. tadinya MT juga mau "ikut2an" test.. kan nggak ada salahnya tau mengenai alergi kita.. tapi setelah tau harganya 2 juta, niatnyapun diurungkan.. hehehe

Dari hasil2 di atas akhirnya kami masih maju-mundur dengan keputusan PLI. Kenapa? Pertama, nggak semua dokter kesuburan (baik obgyn maupun androlog) di Indonesia berpegang pada aliran "PLI" ini. Beberapa dokter (misalnya dokter-dokter di salah satu RSIA terkenal di bilangan jakarta pusat) tidak menganjurkan untuk melakukan test antibody. Di beberapa artikel di internet pun masi ada pro dan kontra. Ada yang bilang bahwa antibody itu hanya ada di servical mucus (cairan mulut vagina). Dan hal ini masih bisa diatasi dengan tindakan inseminasi. Sehingga si pasukan sperm tidak melalui cairan tersebut untuk menuju kedalam. Kedua, nggak banyak orang yang sudah berhasil dan bercerita di blog/ di forum tentang keberhasilannya dalam menjalankan PLI.

Tapi akhirnya, setelah bertanya ke beberapa sumber, ada ajah yang berhasil, walaupun setelah 1-2 tahun PLI. Akhirnya bisa memiliki keturunan baik normal, atau dengan bantuan insem/IVF. Akhirnya, kami putus(kan) ASA akan kami perangi dengan PLI!! Nggak ada salahnya kita coba segala cara, walaupun ujungnya di tangan Tuhan. Akhirnya awal Feburary kemarin kami mulai dengan PLI 3x, yang jarak tiap suntikannya 3-4 minggu. Kemudian, saya juga melakukan pantang makanan dari hasil test alergi di atas. Dan saya juga berjanji untuk menceritakan semua proses PLI saya dengan lengkap hehe. Semoga bisa membantu para pembaca yang juga sedang bingung seperti saya dan MT. :)

Biaya PLI setiap suntikan adalah 1.1juta, diluar biaya penyuntikan, oleh immunolog (c.200k).

Oh iyah, ada yang penting info ketinggalan. Selama proses PLI, kami diharuskan menggunakan pengaman saat berhubungan. Kenapa? agar antibody saya benar2 "lupa" sama "musuh"nya heheh...

Di setiap 3x suntik PLI, kami disarankan untuk menjalankan test evaluasi untuk melihat hasil dan perkembangan. Dan hari ini adalah hasil test evaluasi pertama kami keluar. Ini hasilnya:

Belum mencapai 1:64 sihh.. yah as expectedlah, karena tubuh juga butuh waktu untuk penyesuaian kan.. Tapi saya cukup bangga dengan hasil pantangan saya dan PLI kami selama 3x tersebut. Saya berhasil turun 4 tingkat ke 1:8rb. menurut dokter, biasanya orang turun 3 peringkat.

Menurut dokter, kalau 3x PLI lagi sudah bisa turun sampai 1:512, artinya kami sudah boleh mulai "usaha" kami lagi (if u know what I mean). hahah
Makanya, doakan usaha kami yah teman2 semuaa!!

Sekian cerita saya, nampaknya posting ini sangan kepanjangan yah..semoga memberikan sedikit tambahan info.. maafkan saya kalo ada salah2 kata (kok kayak pidato) hahaha

Sampai jumpa di evaluasi PLI kedua!!
Ciao!!

Sunday, January 8, 2017

TTC Journey - Season 3: Eps 1: The Empire Strikes Back

Haii!!

Happy new yeaaarrr!! Semoga di tahun yang baru ini, ibu2 yang lagi TTC, bisa segera punya momongan, termasuk saya! Amin yang kenceeeng!

Karena wish nya sudah nyerempet ke arah obrolan TTC, sebelum lupa banget, saya mulai cerita season ketiga deh (buat yang udah bosen baca soal TTC saya, nggak apa2 loh kalo ditinggal pergi, tapi nanti saya Dor! hehehe..baca baca!)

Setelah season dua berakhir dengan gantung (udah kayak serian barat kann) Akhirnya kami memutuskan untuk lanjut ke sisi lain (sisi suami - The Empires - red *maksa*)

Season 3 ini syutingnya sudah dimulai dari lebaran 2016. Saat memutuskan untuk menyudahi pengobatan di dr. Aria yang baik hati, kamipun teringat omongan romo yang mengatakan masalah hormon di si MT.. Kamipun berinisiatif untuk memeriksakannya ke dokter ahli masalah kesehatan pria.. Setelah tanya ke 1-2 sumber dan browsing beberapa blog dan forum, akhirnya menjelang lebaran, kami menyempatkan mengunjungi dr. Hendrawan di RS Siloam Kb Jeruk.

Dokterpun menganjurkan MT untuk melakukan test hormon (di salah satu lab terkenal di daerah kedoya) dan USG testicle di daerah Tanjung Duren (dengan seorang dokter ahli USG di daerah situ). Lab test hormon: about IDR 1 mill, and USG about 500k.. *uang ku terbaangg!*

Long story short, si MT didiagnosis oleh dokter memiliki vericocele grade 1 dan ringan (ki-ka, atau ka-ki gitu, saya lupa) Buat yang belum tau ini hewan apa..boleh loh di google dulu, atau bisa klik link ini untuk penjelasan singkatnya.. Dan dari diagnosis tersebut, dokter menyarankan untuk operasi vericocele..

Berbekal mbah google dan forum female daily, banyak yang bilang bahwa: 1) kalau vericocele tingkat 1 dan bahkan ringan, tidak butuh operasi.. 2) hasil operasi masih 50-50 bisa membaik, bisa memburuk.. Nah, takutlah kami atas semua kemungkinan yang terjadi..

Akhirnya kamipun mencari opini kedua atau bahasa gaulnya seken opinien.. browsing punya browsing, sampailah keputusan pada dokter androlog kedua.. Dr. Indra G. Mansur, yang praktek di RS Budhi Jaya (daerah Tebet).. Beliau praktek di hari kerja, after office hour.. nah, sayangnya, dari kantor saya ke budhi jaya, harus melewati yang namanya Kota Kasablanka (mol paling bikin sesak di jalan Kasablanka.. hiks.. Perjuangan banget mencapai RS ini.. Begitu sampai sana, kami dapat nomot urut 11 (oh no!). Berita baiknya dari nomor urut ini adalah: wahhh ternyata dokternya ramaii yahh..artinya banyak yang berhasil dengan dokter ini.. AMIN! Berita buruknya, setelah menunggu lama, ketemu dokter, lalala lilili, kami masih harus melanjutkan perjalanan pulang ke pinggiran kota Jakarta Timur, a.k.a ci-bu-bur!. Die die die.. *singaporean accents*

Long story short, setelah menunjukkan hasil test hormon dari lab, dan hasil USG, si dr. Indra malah melihat keanehan di hasil test hormon dan sebaliknya beliau berfikir malah vericocele grade 1 belum harus operasi.. YEAY!! Ok, lets star with Hormon test.. jadi seperti kebanyakan hasil test darah, pasti ada 3 kolom: 1) nama test, 2) hasil test dan 3) rujukan range yang seharusnya dianggap normal.. Nah, hasil test hormon di salah satu lab terkenal tersebut menunjukkan hasil test MT semua dalam range normal.. tapii... dr. Indra mengatakan itu range normal wanita! oh no! so misled! (dan setelah google2, bener ajah loh, rujukan hasil wanita dan pria harusnya berbeda)..

Intinya si dokter bilang si MT ada masalah dengan hormon (oh no! Romo Oetomo was right! - inget season 2 last eps hehe). Bukan masalah berat, tapi masalah ringan. Si dokter dengan jenaka mengungkapkan istilahnya seperti anak SD, disuruh lulus dengan hasil 9, malah lulus dengan hasil 6.. kurang lebih begitu.. Btw, dr. Indra ini sangant jenaka loh! dan talkative (in a good way yahh) dan tidak komersial... dia tidak menyarankan kami untuk melakukan test ulang di RS tersebut, tapi menggunakan semua hasil test yang sebelumnya sudah kami lakukan..

I have a good faith with this doctor!

Bersambung yahh...karena saya lelah mengetiknya, dan kecenderungan orang akan malas kalo baca sesuatu yang terlalu panjang (eh apa itu saya doank yah?? hehehe)

Buat pasutri diluar sana yang masih TTC, smangaatt!! walaupun saya juga belum berhasil, tapi saya tau, jalan Nya sudah kelihatan kok! Amin..

Ciao!

Monday, December 5, 2016

TTC Journey: season 2 episode 3 - END

Haii..

Setelah... (itung dulu pakai jari.. May, June, July, ..., Dec) 7 bulann!! baru saya berkesempatan update blog ini lagiihh.. dan dimulai dengan TTC.. APA?? No Windy, not this theme again, please!! hehe

Selama 7 bulan ngapain ajahh??
Ingin rasanya bilang ke kalian semua: Saya sudah 7 bulan menganduung!! tapi boong hehe.. (ngarep boleh doonkk siapa tau cepat dikabulkan hihi)..
Tujuh bulan, banyaaakkk banget yang terjadi ie. percobaan inseminasi yang batal (pas nulis kata inseminasi, kok saya merasa seperti ibu sapi yahh??), pindah kantor, pindah rumah...

Karena judulnya TTC Journey, jadi kali ini ceritanya hanya soal TTC yahhh... yang lain2 saya ceritakan di lain kesempatan dan waktu. :)

Kali ini, sub-judul TTC nya adalah "Percaya Nggak Percaya"

Jadi, setelah TTC season 2 episode 2 gagal maning, kami memutuskan untuk melakukan inseminasi (kembali lagi saya berfikir saya seperti mama sapi -red). Datanglah kami hari kedua datang bulan ke Pak Dokter Ari (apakabar yah dia sekarang).. Setelah diresepin obat untuk memperbesar telur (sekarang saya merasa seperti ayam-red) kami pulang dengan membawa bill yang kembali lagi mahal (ini sudah siap mental deh). Saya ingat hari itu hari rabu dan pada masa pra-paskah minggu terakhir.

Di hari Sabtunya, saya diboyong mama saya ke seorang Romo. Mungkin kalo kalian pernah dengar, nama Romo nya adalah Romo Oetomo. Romo Oetomo ini bisa dibilang Romo yang memiliki "Ilmu". Saya sih lebih percaya kalo Romo Oetomo ini memiliki "kekuatan doa" i/o disebut sebagai "ilmu" karena kalau disebut ilmu, terkesan seperti sesuatu pembelokan agama (apasih - tau apa saya mengenai agama, ke gereja saja masih suka malas hehe)..Dan romo menggunakan pendulum saat berdoa. Note: saya pernah google nama ilmu pengobatan dengan menggunakan bandul/pendulum ini, memang ada istilah medis/terapi nya, tapi saya lupa, dan coba google lagi nggak ketemu hehehe..

Saat saya bertemu romo minta didoakan (btw, ini kali kedua saya bertemu beliau, tapi baru kali ini saya didoakan secara pribadi) karena sedang menjalankan proses "inseminasi" (si ibu sapi huhu). Tetiba, di dalam doa, si Romo mengatakan secara tegas "Nggak usah Insem! Pakai cara biasa, pasti bisa normal ini" gituu... Gimana yah, saya ini orangnya suka "percaya nggak percaya".. Jadi di satu sisi saya percaya sama ROmo adalah terusan mulut Tuhan.. Tapi saya bingung kenapa si Romo begitu keras bilang itu..Kemudian, dari hasil terawangan Romo Oetomo, beliau bilang kalau si MT (suami-red) ada sedikit masalah hormon. Beliau bilang, sudah sembuh masalah hormon ini (karena baru didoakan dan dijamah oleh Tuhan , melalui Romo).

Long story short, saya membatalkan insem (jadi sia2 bill tagihan pertama itu melayang)..Datanglah Jumat Agung dan Tri hari Suci. Kalau saya jadi inseminasi (tetap kepikiran sapi-red), seharusnya jadwalnya adalah hari Senin, setelah hari Paskah. Buat teman2 yang juga pasien dr. Arie Polim, mungkin teman2 juga tau di hari Jumat Agung itu, dr. Polim kehilangan anak sulungnya, yang sedang bertugas putra altar di gerejanya. Anak sulung dr. Arie meninbggal saat bertugas (masih sedih dan nggak percaya sih kalo inget ceritanya..kasihan juga Pak dr. Arie yang baik hati). Intinya, kalau saya melanjutkan proses insem, dr. Arie (yang selama ini tau historis medis saya) nggak akan melaksanakan insem untuk saya, tapi pasti diganti dokter lain.

Nah, intinya, saya rasa perkataan Romo ada hal-hal "percaya nggak percaya" yang tersirat.. Nggak boleh insem... mungkin kaena dokter yang menangani saya kebetulan akan berhalangan. Nggak boleh insem.. mungkin juga karena bertentangan dengan ajaran katolik (ini saya sudah research, dan ternyata ada 2 pendapat..tapi memang kebanyakan mengatakan masih menentang inseminasi di ajaran katolik).. Nggak boleh insem.. mungkin karena, percuma saja hasil insem hanya akan "membuang uang" karena toh ternyata masalahnya ada di hormon nya MT (yamg ini nanti saya lanjutkan ceritanya yahh..)

Jadi moral cerita hari ini adalah: Terserah Tuhan. Jalan Tuhan pasti indah. AMIN yang kenceng sambil angkat tangan! :)



Note: teman-teman kalau mau bertemu Romo Oetomo dan minta didoakan, Rm berdomisili di gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Jogja...yang biasanya kalian sebut dengan "Ganjuran". Itu loh yang gerejanya ditengah2 ada candi kecilnya.. Romo Oetomo sudah tua sekalii sudah berusia late 80s..Tapi ingatannya masih tajam, dan masih berbicara dengan jelas. Psstt.. Romo nya agak sedikit galak (atau memang nada berbicaranya begitu).. Kalau mau datang, teman-teman bisa telepon langsung ke Romo atau ke sekretariat.


Jadi, sekian dulu cerita sayaa..Besok (semoga bisa pulang cepat lagi) dan saya lanjutkan langsung ke season 3.

Happy TTC!! Enjoying every moment! (mengingatkan diri sendiri)

Friday, February 5, 2016

TTC Journey: season 2, episode 2

Akhirnya baru sempet dan berkeinginan untuk update TTC lagih. 

Setelah siklus January yang diharapkan tidak datang, malah datang sesuai jadwal, sayapun kembali berkunjung ke dr Arie lagi. Kalau di episode sebelumnya saya datang pada h+2, kali ini saya sengaja datang di h+3, dengan alasan di hari itu sudah tidak terlalu banyak (if u know what I meant) haha! 

Transv di h+3 belum kelihatan apa2 sih. Ketakutan adanya kista di episode sebelumnyapun tidak terbukti karena hasilnya rahim saya bersih. Dokter hanya memberi resep obat penyubur (femara 2x1) dan asam folat yang bukan generik (folilet gitu kalo gak salah). Padahal dengan berbekal pengetahuan di bill episode 1, saya berharap mencetak bill yang lebih murah (karena MT sudah tidak dikasih vit yang super mahal itu). Tapi ternyata dengan penggantian obat2 baru, billingnya masih sama *omooo!!* akhirnya saya disuruh balik lagi di h+13 (karena h+14 jatuh di hari minggu) 

Sebelum masuk h+13, banyak sekali drama di episode kali ini. Pertama dimulai sejak mertua saya berkata bahwa leher saya tampak membesar (regardless memang saya naik 3-4kg setelah married haha!!) akhirnya saya ke dokter dan disuruh USG, karena ditakutkan adanya pembengkakakn tyroid. Akhirmya saya USG, dan kata dokter USG nya: ini kebanyakan isinya lemak (thank you docfor reminding me haha!) tapi juga ditemukan 2 kista yang besarnya hanya 2-4 mm. Dan tidak akan berdampak apa2 menurut dr USG.

Setelah hasil USG keluar, kembalilah kami ke dr umum yang memberi rujukan. Tapi si dr umum ini malah menyuruh saya ke dr bedah (yang belum saya ikuti sampai sekarang). Karena saya kurang percaya dengan dr umum ini, sayapun dibantu mama untuk tanya2 ke teman2nya yang dokter. Dan semuanya berkata itu wajar. WAJAR! *sigh* untunglah ketakutan tyroid membesar sudah gone dan ternyata lemak (duh!) 

Drama kedua adalah hasil medical check up (MCU). Karena fasilitas kantor yang sudah lama tidak saya gunakan, akhirnya (mumpung masbur belum mulai) saya melakukan MCU di salah satu RS besar di jakarta selatan. Hasilnya: payudara kiri dan kanan ditemukan adanya lump (yang setelah saya check2 sendiri tidak menemukan apa2, malah adanya memang tulang rusuk saya yang agak menonjol, yang sudah ada dari sejak jaman SMP). Kedua, dr obgyn saat MCU bilang saya ada keputihan dan diiming2in kalimat yang katanya bisa berpengaruh ke kesuburan (yang akhirnya setelah di confirm ke dr Ari, itu namanya cervical mucus atau cairan kesuburan, dan bukan keputihan.. What the.......). Belum berakhir sampai disitu, hasil USG perut menyatakan ovarium saya ada kista sebesar 1.5cm. Ini masih bingung sih, tapi kontra indikasinya, kenapa selama ini saya transv USG di dr Yani dan dr Arie, tidak pernah kelihatan. Dan sayapun sudah tanya kiri kanan dan katanya memang kadang "telur" itu bisa terlihat seperti kista. Lain2nya, Puji Tuhan normal.

Tibalah h+13. Kembali ke dr Arie. Hasil USG transv menunjukkan saya lumayan sensitive dengan obat barunya dr Arie. Ketebalan dinding rahim kata dr: excellent (9mm). Jumlah telur ada 3: 2 di kiri (18 dan 16mm, belum terlalu matang),  1 di kanan (21mm, yang katanya akan ovulasi segera). Dokter sih bilang harusnya bulan ini 80-90% chance berhasil. Kalau melihat kondisi rahim saya. Tapi 10% nya ada di kondisi suami dan sisanya unknown. Kalau bulan ini belum berhasil, dr Arie menyarankan insem, karena dengan insem, bisa membantu "mencuci" sperm dan hanya yg berkualitas baik yang dimasukkan. Kali ini dojter tidak menyarankan untuk balik konsul di h+21. Dia suruh kami balik kalau sudah positif atau, again h+2/3 di siklus yang baru. 

Yak, dengan berbekal "jadwal" baru kamipun pulang dan memutuskan untuk cuti selama kurleb 1 minggu. Semiga saja di episode kali ini bisa berhasil, jadi nggak usah merogoh kantong lebih dalam. Hehe! 

Dan ternyata, si bulan yang tidak dinanti datang tepat waktu! Haha! Ternyata 80-90% itu hanyalah harapan semata. Huhu. Kesempurnaan 100% hanya ada di tangan Tuhan.  

Dan akhirnya eps 2 pun berakhir! 

We'll update on the next eps soon yah! :)

Wednesday, December 30, 2015

TTC Journey: Season 2 Episode 1

Sumpah, saya sangat iri sama orang yang sangat mudah hamil. Ternyata kehamilan untuk sebagian orang itu tidak semudah di film Pernikahan Dini (inget gak?! Yang main agmon sama syahrul gunawan, sekali berhubungan, langsung hamidun!hahah!) jadi bersyukurlah kamu-kamu yang tidak perlu bolbal obgyn.. 

Okehh! Mari kita mulaii. 

I dont know if it is appropriate to tell detail story about my TTC. Yang pasti, tujuan saya hanya untuk sharing dan memberi info, selayaknya saya juga banyak mendapatkan info berguna dari internet dan blog-walking. Dan semoga info2nya berguna untuk pasangan2 lain yang juga sedang TTC hehe.

Setelah Season1 TTC yang belum banyak saya dokumentasikan (karena satu dan lain hal). Season2 akan gw dokumentasikan dengan lengkap. 

October kemarin setelah second honeymoon belum berhasil membuahkan. Akhirnya saya dan MT memutuskan untuk kembali ke dokter. 

Pengalaman dari dokter yang kemarin, saat ini saya lebih selektif memilih dokter. Kriteria yg saya cari tidaklaah sulit haha:
1. Komunikatif. Dalam arti: bisa diajak ngobrol, tidak memberikan kesan "terburu-buru" walaupun pasiennya super antri.
2. Harus praktek di RSIA. Karena anggapan saya RSIA itu lebih enak dibanding RSU (gak tau dr segi apanya, ini hanya personal preference) haha
3. Tidak komersil. Mendengar kiri-kanan dan membaca blog2 orang, banyak cerita mengenai dokter yang komersial. Apa ajah disarankan. Dan berujung pada harga yang mahal. As u may know, kalau kontrol ke dokter kandungan dengan diagnosa fertility itu tidak diganti asuransi :( jadi saya yang cheapo ini harus selektif memilih dokter yang komersial.
4. Kalau bisa punya KFER (konsultan fertilitas), kalau tidak punya, dia harus punya track record bagus. 
5. Dokter cowo. Meskipun agak risih "diubek2" sama dokter cowo, tapi menurut beberapa pengalaman teman yang ke beberapa dokter cewe, biasanya mengeluh lebih "sakit". Hmmm nggak tau persis sih kenapa. 

Akhirnya pilihan pun jatuh ke dokter Arie Polim, SPOG (K). 

Saat siklus di bulan December datang, sayapun menelepon RS Bunda dan bertanya kapan sebaiknya saya ke dokter. Maksudnya biar nggak 2x bayar gitu. Misalnya datang hari ke xx tau2 dokternya suruh balik lagi hari ke yy karena belum kelihatan telurnya. Kalo gitu kan jd 2x bayar. #cheapomode. 

Kata si suster harus datang di H+2. Datanglah saya hari itu ke dokter. Dan si Pak dokter bilang, dia mau transvaginal USG (OMG!). (You know why I was so shocked)

Setelah saya ceritakan kronologis saya dengan obgyn sebelumnya dan saya berikan hasil HSG, dr. Arie memberikan kebebasan untuk saya dan suami apakah mau langsung inseminasi natural, atau mau coba normal dl. Tanpa banyak mikir (karena cheapo juga) akhirnya saya memutuskan untuk normal dulu. Siapa tau Tuhan berkehendak lain. 

Hari itu saya pulang dengan bill kurleb 1.5 juta (excld sperm analysis:350k) dan jadwal disuruh balik lagi di H+14. Saya dikasih obat penyubur yang saya lupa namanya dan asam folat. Sedangkan suami dibekali antioksidan yang harganya 2/3 dr billing (nangis darah liat tagihan CC buldep) dan rujukan untuk test sperma. 

Tibalah H+14. 
Tanpa antri panjang, sayapun masuk sesuai jadwal. Seperti biasa dan kebanyakan dokter, masuk2 lgs disuruh ngangkang untuk tranvaginal USG (ouch!). 

Hasilnya cukup melegakan. Ketebalan dinding rahim 8.5mm, jumlah telur yang besar :2, 1 dikiri dan 1 dikanan (karena menggunakan obat penyubur) dan besar sekali (20mm dan 23mm) . Kalo info dari seorang teman yang sudah lama TTC, ketebalan dinding rahim normal harusnya 7mm, jumlah telur: 1 kalo tanpa obat, dan besarnya minimal 18mm. 

Hasil sperm test suami: tetratozoospermia. Apakah itu sodara2..?! Haha 
Intinya jumlah % sperm yang normal tidak sampai 4% (batas normal). Tapi kabar baiknya jumlahnya 10x lipat jumlah normal. Soo nggak masalah dehh walaupun % nya gak sampai 4%, jumlahnya tetap lebih banyak dr org normal. Motility (kecepatan) nya juga sangat bagus. Yeay MT! 
Tapi pesan dokter, disuruh makan wortel yang banyak (ouch!!!) 

Hari itu kami pulang membawa "jadwal" hehe. 2 hari sekali yah, saran dr.Arie. Dan   disuruh balik lagi di H+21 untuk lihat apakah sudah terjadi ovulasi atau belum. Karena ini hanya kontrol normal, dokterpun tidak lagi repot2 memberikan obat dan vitamin, so hari itu saya hanyak bayar konsultasi dokter. (Semoga ini sign kalo dokternya tidak komersial hehe) 

H+21 pun datang. Hari itu rencananya si pak dokter hanya mau liat apakah saya sudah ovulasi atau belum. Setelah (again) di transv. USG, telur sebelah kiri sudah tidak tampak, dr. Arie beranggapan sudah ovulasi lebih dulu makanya sudah tidak kelihatan bekas apapun. Sedangkan telur sebelah kanan terlihat agak berantakan dan mengecil, kata dr.Arie ini artinya baru 1hari + ovulasinya. TAPI dokter juga menemukan gumpalan (yang dia sebut gimpalan darah) di ovarium kanan (hiks! Apalagi ini). Dr. Arie curiga ini kista (HIKS!) tapi dia heran kenapa di USG pertama dan kedua tidak ada. Jadi dia bilang mungkin akan luruh kalau nanti datang bulan. 

Kesimpulan kunjungan ketiga: ngambang. Belum tau hamil atau nggak, karena hasilnya br bisa diketahui about 2 weeks. So, kayak org IVF deh: 2 weeks wait (2ww) hehe. Dan hopefully gimpalan darah itu bukan apa2 yahh.. 

Next kunjungan would be: kalo hamil or kalau datang bulan, H+2 atau 3 hari. *crossing fingers* 

Begitulah perjalanan TTC season two, episode 1. Minta doanya juga yahh para pembacaa! Semoga berhasil hehe! Makasihhh :)

Ciao! 

Saturday, August 1, 2015

Hysterosalpingography - HSG

Ada yang bisa baca kata diatas dalam sekali sebut dan tanpa kesalahan? Let me know yah kalo ada dan kamu bukan dari medical school hehe.
Mama saya selalu bilang kalau saya orangnya tidak teliti dalam membaca dan menulis. Ternyata, setelah besar saya tau kenapa. Karena otak saya bekerja dengan membaca 1-3 huruf pertama dan terakhir. Seperti kata2 di atas, saya akan baca "Hystero or hysti something something lah.." Ternyata dari kecil otak malas ini sudah menjadi tanda lahir. :) 

Anyhow. Saya nggak akan membuat posting mengenai cara membaca dan cara otak saya bekerja. Sesuai judulnya, saya akan bahas mengenai HSG. :D

Life after marriage. 
Months after married, saya selalu dihujani dengan pertanyaan apakah saya sudah "isi". Kalau kata salah satu teman saya, itu merupakan siklus hidup manusia, ditanya tiada habisnya. Kita harus step out dan mengabaikan seluruh komentar orang, dan biarkan diri sendiri yang membuat keputusan.

Bulan-bulan awal, saya memang sepakat dengan diri saya sendiri (krn MT nggak setuju) untuk menjaga dahulu. Karena saya harus menempuh perjalanan cukup jauh menggunakan pesawat. Kemudian, sejak awal 2015, kami akhirnya sepakat untuk TTC (try to conceive). 

Dengan berjalannya waktu, orang2 semakin banyak yang bertanya apakah saya sudah isi. Terus terang saya adalah orang yang menerima dan mencerna "opini publik" dan "apa kata orang". Tanpa disadari, pertanyaan2 itu telah membuat saya jenuh. 

Setelah sekian bulan berusaha, namun belum menghasilkan, maka kami memutuskan untuk mulai pemeriksaan ke dokter obgyn. Keputusan ini diambil, terutama karena saya tidak mau "terlambat" bertindak, jika (amit2) ternyata ada sesuatu yang berbeda yang menghambat pembuahan. Kembali lagi, banyak opini yang menganggap saya terlalu terburu2. Belum 1 tahun menikah, harusnya sabar saja. Untuk apa ke dokter dst. Saya, sempat fed up, tapi akhirnya saya menutup telinga atas komentar2 semacam itu. Saya mulai bisa menerima nasihat teman saya untuk step out dan ignore semuanya.

Setelah bertanya ke beberpa rujukan, akhirnya saya putuskan untuk berkonsultasi dengan dokter Yani Toehgiono di RS PIK. For the record, dr. Yani adalah dokter yang membantu om dan tante saya setelah 6 tahun berusaha memiliki anak. Dan dia sudah sangat berpengalaman. Berbekal referensi ini, akhirnya kami pergi kesana. 

Intermezzo, sebelum kunjungan dr. yani, saya mendengar beberapa kasus "pasangan muda" yang nampaknya lagi marak (apasih). Salah satunya adalah PCOS. Singkatnya, PCOS adalah sel telur yang tidak matang dan tidak bisa dilakukan pembuahan. Penyebabnya banyak: genetik, hormon, makanan, dll.

Nah, dihantui dengan penyakit PCOS tersebut, kami akhirnya melakukan sesi pertama ke dr. Yani. Kunjungan pertama dr. Yani langsung menyuruh USG. USG yang ada di pikiran saya adalah usg melalui perut yang dikasih cairan dingin2 empuk. Hehe. Ternyata saya disuruh buka celana, tiduran, dan membuka dan menekuk kaki *shock* ternyata dr. Yani melakukan transvaginal ulatrasound. Usg yang dimasukan melalui vagina. Anyhow, beliau menyatakan "kok ini telurnya kecil yah.." 

Mendengar pernyataan itu, dikombinasikan dengan bayangan penyakit PCOs, kepercayaan diri sayapun runtuh. Padahal dokternya nggak bilang apa2 ttg pcos. Dia hanya memberikan obat subur yg dimakan saat mentruasi. Tapi, namanya jaman sekarang segala informasi sudah canggih, padahal nggak tau benar atau salah. Akhirnya saya menangis bombay ala2 drama sinetron pas jalan pulang haha!! 

Kunjungan kedua ke dokter, ternyata hasilnya bagus semua. Tinggal menunggu pembuahan. MT pun diberikan vitamin penguat sperm oleh dokter. Dan kami diberi jadwal untuk "bikin PR" *malu* haha!

Akhirnya dokter berpesan, kalau bulan ini gagal, bulan depan HSG yah. Nahloh! Makhluk apaan ituu.. 

Ternyata Tuhan berkehendak lain. Saya gagal bulan itu. Dokter suspected karena saya terserang demam saat masa subur. Huhu. Tapi tetap dia menyarankan HSG. 

HSG adalah:
  1. Hysterosalpingography (HSG) is a radiologic procedure to investigate the shape of the uterine cavity and the shape and patency of the fallopian tubes. It entails the injection of a radio-opaque material into the cervical canal and usually fluoroscopy with image intensification.
(Sumber: wikipedia) 

HSG dalam bahasa yang lebih sederhana adalah: pengecekan tuba falopi dengan menggunakan teknologi radiologi. 

Caranya? 
Kalo baca pasti horor sihh.. Intinya adalah menyemprotkan cairan antibiotik ke dalam kandungan untuk mengecek apakah ada penyempitan, perlengketan, atau gangguan lain pada rahim dan saluran tuba falopi. Karena itu, sebelum HSG, kita tidak boleh berhubungan. Dan harus menandatangani pernyataan "tidak hamil"

Setelah disemprot, perutnya nanti di foto rongent. Dan hasilnya dikasih lagi ke dokter. 

Hasil HSG saya?
Hasilnya: bau asap. Kenapa? Karena seperti membakar uang 900ribu di api unggun. Hasilnya normal semua. Beberpaa orang sudah bilang ke saya. Ciri2 orang memiliki gangguan tuba falopi adalah sakit yang berlebihan saat datang bulan. (Note: jangan percaya langsung dengan tulisan saya, ada baiknya pembaca melakukan research dan bertanya lebih lanjut ke dokter masing2) 

Perasaan saat di meja foto rontgent: horror! Karena melihat alat2nya. Perasaan saat HSG: ternyata tidak sakit, hanya tidak nyaman mendengar sesuatu masuk ke rahim melalui si miss V. Perasaan setelah HSG: seperti orang masuk angin dan kepingin boker. Dan penyakit perut ini berlangsung semalaman :( 
Perasaan waktu liat foto hasil HSG: buseeeettt daahh kek ada alat sepanjang 15 cm masuk ke rahim eikeee *horrooorrr* 

Ok, nampaknya saya telah memperhoror seluruh cerita ini. Haha

Hasil research baru2 ini mengatakan HSG meningkatkan kesuburan sampai 30% dalam 3 bulan pertama. Kenapa? As simple as krn setelah "ditiup" cairan HSG, saluran tuba falopi menjadi lebih "lengang". Haha. Dan sekarang sudah berjalan 2 bulan dengan hasil masih nihil hehe. 

Saya sih nggak berharap hasil research nya tepat, secara research nya pakai google docotr haha. Tapi ttp saja ada secuil porsi otak saya yg berharap2 cemas Haha.

Ok, mohon doa nya yahh readers! Ciao!
Buat readers yang juga lagi dalam proses TTC, smoga membantu memberi info yahh posting kali ini hehe. Good luck!